Manunggaling Kawulo Bumi Ciptaan Gusti


Kita manusia adalah satu. Makhluk hidup yang lahir dari sumber yang satu. Sumbernya segala sumber. Awal mula dari yang paling awal. Manusia itu hanyalah satu di antara sekian banyak perbedaan. Cuma menjadi satu dalam kemajemukan. Tidak lebih dari satu di luar segala variasi. Akan tetap satu dari banyaknya selisih. Bertahan di keaslian yang satu dalam seringnya pertikaian. Tidak berubah dan terus satu dalam ketidakcocokan. Menetap di posisi satu pada saat banyak ketidaksesuaian. Dengan kata lain kita adalah satu dari semua yang masih banyak lagi.

Jauh berabad-abad yang lalu, sebelum manusia hadir di muka bumi, dan menjadi makhluk paling berkuasa yang sekaligus seolah-olah paling menentukan, bumi telah menghasilkan banyak hal. Mulai dari ketenangan, ketakutan, kesenangan, kekhawatiran, kenyamanan, sampai dengan ketidakpastian. Dulu, semuanya itu adalah hal yang wajar, dan tidak pernah dipermasalahkan oleh banyak makhluk hidup yang sudah ada sebelum manusia. Apa yang hari ini kita anggap sebagai musibah, bisa jadi sebenarnya hal yang alamiah dan sesuai dengan kehendak kodrati.

Ada sebuah pepatah yang bilang, bahwa tidak ada yang lebih menakutkan dan menjadi hukuman paling menyakitkan ketimbang kesepian. Sulit untuk dipungkiri, kesepian menjadi momok mengerikan yang bisa singgah kepada siapa saja. Kesepian tidak akan memandang siapa kamu, apa sukumu, garis keturunanmu, agama yang kamu anut, dan segala ambisi yang lekat dalam benakmu. Tidak peduli sekuat apa pun kamu dan seheroik serta sesuci apa pun segala anggapan yang melekat di dirimu, kesepian bagi saya adalah ganjaran yang paling adil untuk segala hal.

Pada suatu ketika, di salah satu kafe yang terletak lumayan jauh dari tempat saya tinggal, saya membuat janji untuk bertemu dengan dua orang teman saya yang satu sama lain belum mengenal. Hari itu saya menjadi orang yang mempertemukan dua individu yang berbeda, sekaligus dua dunia dan dua semesta yang berbeda. Di momen itu pula, saya menjadi penghulu sekaligus saksi, yang mengabadikan perjumpaan dua manusia yang sama sekali berlainan. Mulai dari kebiasaannya, karakternya, sifat dan wataknya, sampai dengan status hubungannya.

Sebenarnya tidak ada ada yang istimewa dalam pertemuan tersebut, akan tetapi terdapat sebuah keunikan tersendiri, dan sangat berkaitan dengan tulisan ini. Awalnya saya hanya berniat bertemu teman saya yang berasal dari pulau di timur pulau Jawa. Pertemuan saya dengannya adalah pertemuan yang berhubungan dengan keresahan pribadi seputar dunia tulis-menulis. Sedangkan dengan teman saya yang satunya lagi, yang berasal dari wilayah barat pulau Jawa, adalah pertembungan yang bersangkut-paut soal proyek digital kecil-kecilan.

Hari itu saya lebih banyak mengobrol dengan teman saya yang berasal dari Jawa barat. Di penghujung pertemuan kami sebelum teman saya ini mau pergi, ia sempat merekomendasikan salah satu film yang menurutnya layak saya tonton. Dari caranya merekomendasikan film, saya menjadi sedikit ragu untuk segera menonton film tersebut, dan tidak sesuai dengan saran yang diberikan. Bagi saya, teman saya ini terlalu menggebu-gebu dalam menanggapi dan menilai sesuatu. Termasuk film yang telah ia tonton dan lalu direkomendasikan ke saya.

Masih seputar keunikan lagi, teman saya dari Jawa barat ini menjadi orang kedua yang rekomendasi tontonannnya saya tunda. Setelah sebelumnya saya pernah melakukan penundaan menonton serial anime dari Jepang. Tetap dalam konteks uniknya, film yang ia rekomendasikan sama mengasyikkannya dengan anime yang saya singgung barusan. Dan saya pribadi seperti belajar, bahwa soal rekomendasi, entah ihwal apa pun itu, menjadi petanda sekaligus pengingat saya, agar saya tidak lagi dan pantas meragukan orang lain berdasarkan asumsi semata.

Masuk ke pembahasan soal film yang direkomendasikan, sebenarnya film tersebut adalah film tentang lingkungan. Film ini masuk dalam film yang bergenre dokumenter, yang dihasilkan dari dan oleh sekian banyak kolaborasi. Mulai dari para pakar, akademisi, budayawan, orang-orang yang bersinggungan langsung dengan permasalahan yang diangkat, sampai cuplikan dari orang-orang tertentu yang mendukung kualitas film ini menjadi tidak bisa diragukan.

Sebetulnya, film ini bukanlah menjadi film dokumenter yang mengangkat tema lingkungan pertama yang saya tonton. Sebelum saya menonton film ini, sedikitnya lima film dokumenter yang mengangkat soal lingkungan pernah saya tonton. Dari semuanya, jujur saya akui kalau film ini adalah film terbaik yang pernah saya tonton. Selain tema lingkungan yang biasanya berkaitan dengan tema kemiskinan, keserakahan, ketidakpedulian, serta hal-hal buruk lainnya, film ini menawarkan hal yang sama sekali baru, dan sangat berbeda dengan film lainnya.

Saya pribadi juga sebenarnya tidak habis pikir dan tidak menyangka sama sekali, bakal menonton film soal lingkungan yang paling adil dan tidak berniat menyalahkan siapa-siapa. Sebab, film ini menurut saya murni menekankan pada penyadaran yang sangat filosofis dan menitiktekankan pada semangat kolektifitas. Meskipun tetap masuk dalam agenda propaganda yang lumayan radikal, film ini tidak mengandung unsur menggurui sama sekali. Malahan, film ini seperti mengajarkan banyak hal yang sebenarnya tidak kita ketahui, apalagi akrab dengannya.

Maksud saya, kesadaran akan lingkungan seharusnya bisa dimulai dari hal-hal yang paling mendasar dan sangat filosofis serupa yang dicontohkan dalam film ini. Bukan malah seperti film sejenis lainnya, yang dengan nada menggebu-gebu tetapi terlalu sengak dan menggurui. Terlebih lagi, setidaknya akrab kita temui film sejenis ini yang seakan-akan memberi kesimpulan pentingnya kesadaran lingkungan, tetapi tetap membawa identitas yang begitu ditonjolkan. Seolah-olah ingin diakui bahwa dirinya serta kelompoknya yang paling benar dalam menilai lingkungan.

Untuk film ini, selaras dengan judulnya yaitu Diam dan Dengarkan, membuat pengalaman menonton begitu hidup dan terasa hangat serta bersahabat. Segala hal yang ingin dibangun lalu dikonstruksi oleh film ini, menurut penilaian saya kental dengan nuansa yang mampu terlepas dari kepentingan fraksi apa pun. Hal ini bisa kita temui dan buktikan sejak awal film, ketika dijelaskan bahwa tidak ada satu pihak pun yang berhak mengklaim kepemilikan karya dari film ini. Selanjutnya, saya turut mengamini jika film ini disebut sebagai karya dari seluruh umat manusia.

Belum lama ini, ada satu hal dan menjadi faktor terbesar yang membuat saya memutuskan menonton film ini. Sebabnya saya diminta untuk mengoreksi proposal skripsi yang mengangkat film ini menjadi objek skripsinya. Bisa dibilang, jika belum diminta untuk segera menonton, boleh jadi saya belum akan menonton film ini. Penyakit menunda yang menjadi ciri khas saya, tampaknya harus segera diakhiri, dan film ini menjadi salah satu alasannya.

Bukan, bukan karena saya merasa ada perubahan yang signifkan yang terjadi seketika pada saya. Akan tetapi lebih kepada tergugahnya diri saya sebagai seorang individu. Sebab saya merasa masih banyak hal yang belum saya ketahui di dunia ini. Dari alasan sederhana itu, menghasilkan kesimpulan kalau banyak hal yang belum saya lakukan, tetapi sudah banyak sekali hal yang saya keluhkan. Dari ketidakseimbangan tersebut, saya berusaha untuk setia pada jalan yang sudah digariskan pada saya, dan saya akan berusaha menerima tanpa pernah mengeluh yang tidak berguna.

Lanjut ke soal skripsi yang saya maksud, sebenarnya yang menjadi alasan kenapa saya mengiyakan permintaan untuk mengoreksi proposal tersebut, secara tidak langsung saya merasa tertantang. Tertantang dalam artian bisa jadi karena sifat sombong yang masih melekat pada saya. Meskipun saya juga pernah hampir mengangkat tema yang sama dalam skripsi saya. Selain itu, saya merasa tidak ada salahnya juga membantu orang lain selagi saya masih hidup dan bernafas. Toh saya juga bukan wali yang masih bisa membantu jika sudah tidak bernayawa lagi.
Secara kerangka teoritik, calon skripsi—yang semoga saja nanti bisa dibukukan—ini sangat menarik untuk diketahui bahkan dikoreksi siapa pun. Pasalnya, banyak teori yang menjadi rekomendasi dan acuan dalam kepenulisannya. Tidak hanya itu, baru pertama kali ini saya menemui penelitian yang serius ketika menggali sebuah pesan yang terkandung dalam film. Keseriusannya terbukti dari upaya yang penulisnya lakukan untuk keluar dari kerangka normatif penelitian, akan tetapi tetap adil pada format akademik yang ruwet dan ribet itu.

Belum berhenti sampai di situ, cara penulisnya saat menggali pesan di dalam film sangat lentur dan seakan mengalir seperti air. Penulisnya juga sangat tepat ketika memakai analisis semiotik sebagai alat untuk membedah film ini. Kelebihannya dan bukan sebuah kebetulan, film ini ibarat benar-benar pas jika dianalisis menggunakan semiotik yang selalu berangkat dari petanda serta pertanda. Jika ditanya apakah masuk akal dan bakal nyambung jika semiotik yang dipakai, dan apakah tidak terkesan dipaksakan, maka saya bisa menjamin penulisnya sudah melebihi itu semua.

Namun, saya pribadi juga sangat menyarankan kalau bagian-bagian penting baik itu di proposal skripsi atau di bagian skripsi nantinya, lebih baiknya diperketat lagi. Diperketat dalam arti lebih diperkuat segala argumen yang mendukung dasar kelayakan skripsinya, akan tetapi juga bukan berarti skripsinya tidak layak. Intinya segala celah yang akan muncul, setidaknya harus disadari, dan kalau bisa segera mungkin. Soalnya, akan fatal sekali jika ada satu teori saja yang belum dikuasai, dan pasti akan mempersulit di kemudian hari.

Salah satu contohnya yaitu teori Gaia. Sebagaimana yang kita ketahui setelah menonton film ini, yang bisa kita simpulkan kalau film ini dibuat masih dalam kondisi Corona dan berkaitan pula dengannya, banyak sekali memakai teori Gaia di dalamnya. Tidak sekadar memakai, tetapi film ini juga mencoba meluruskan kesalahpahaman umat manusia akannya. Hal ini bisa kita temui dari pernyataan yang diutarakan oleh Ryu Hasan dan Butet Manurung, dan bisa dikaji lebih lanjut jika sebelumnya tidak masuk hitungan atau luput karena tidak sengaja.

Selama ini, teori Gaia dipahami sebagai teori ekologis yang menyatakan bahwa bumi bisa memperbaiki diri dengan sendirinya. Asumsi tersebut, lantas dijadikan dalil untuk melegalkan perusakan lingkungan secara masif. Sedangkan, Gaia sendiri tidak bisa diartikan sebagai Dewi yang diutus oleh Tuhan untuk merawat bumi. Sama halnya dengan apa yang biasa kita sebut sebagai bencana, bisa itu bencana tsunami, gunung meletus, angin topan dll. Padahal, bisa jadi itu adalah suatu kewajaran yang semestinya dilakukan sesuai waktunya oleh bumi, bukan?

Selebihnya, saya sangat merekomendasikan film ini untuk ditonton siapa saja dan kapan saja, selagi surga yang kita bangun di bumi masih terus menjadi dan berbentuk dongeng. Hidup yang layak adalah hak siapa saja, dan tidak ada satu orang pun yang berhak mengatakan kewajaran tanpa dia sendiri belum menyelami arti kewajaran yang sesungguhnya. Harapan saya, beriringan dengan semakin banyaknya film ini ditonton, bakal skripsi yang sudah saya singgung dari tadi juga bisa hadir dengan bentuk dan wujud terbaiknya, serta lahir dari seseorang yang adil sejak dari panggilan suara hatinya.