Upaya Merawat Ingatan dan Mengolah Renungan



IDENTITAS BUKU
Judul : Ibu Susu
Penulis : Rio Johan
Penerbit : Gramedia
Halaman : 202
Tahun : 2017

Ibu adalah makhluk panutan bagi saya, sekaligus menjadi guru yang abadi. Sosok yang tak pernah berharap segala jasa baiknya terbalas. Figur yang hatinya sekokoh baja, dan rasa sayangnya seluas samudera. Wujud terbaik dan tersabar, yang mengajarkan saya arti pentingnya hidup dan makna di baliknya. Ibu juga adalah gerbang awal bagi saya, yang mewariskan kumpulan ingatan di masa lalu. Ibarat pembimbing di segala kondisi, hidupnya selalu dipenuhi dengan pengabdian. Ialah permulaan dan penghabisan buat saya yang ringkih ini.

Sumber kehidupan saya juga berawal dari seorang ibu. Dari ruang yang ada di tubuhnya, saya menetap selama hampir sembilan bulan. Bertahan dari segala goncangan dan kerasnya hidup. Bersatu dengannya dan makan dari asupan yang masuk ke tubuhnya. Selama kurun waktu tersebut saya juga belajar, agar siap hidup sendiri di dunia nantinya. Setelah lahir ke dunia, saya pun terus meminta belas kasihannya seorang ibu lewat air susunya. Setidaknya saya merasa beruntung dan bersyukur, pernah selama hampir setahun meminum air kehidupan dari ibu.


Kurang lebih tiga tahun yang lalu, di salah satu kafe yang—saya sudah lupa namanya—terletak di dekat jalan Ring Road Utara Yogyakarta, bersama seorang teman saya mengikuti salah satu launching atau bedah buku jika tidak salah ingat. Mengikuti di sini dalam artian yang tidak sengaja, sebab niat awalnya hanya pengen nongkrong dan mencoba suasana kafe yang baru. Kami memutuskan untuk nongkrong di sana karena kafe tersebut pada waktu itu sedang ramai dibicarakan. Bermodal penasaran, jadilah kami menjajal nongkrong di sana.

Tidak disangka, di kafe tempat kami nongkrong tersebut sedang berlangsung sebuah acara yang saya sebut barusan. Saya pun tidak benar-benar mengikuti acara tersebut seutuhnya, dan lebih banyak ngobrol dengan teman saya. Kami hanya mencuri dengar obrolan dari forum yang sedang berlangsung, dan hanya tahu sedikit arah perbincangannya. Selain memang suasananya lumayan asik untuk ngobrol, kafe tersebut juga sangat cocok bila dijadikan tempat mengadakan suatu kegiatan literasi, karena kondisinya yang sejuk dan tidak terlalu bising.

Dari pertanyaan-pertanyaan yang muncul selama sesi tanya-jawab forum tersebut, muncul suatu kesimpulan bahwa buku yang sedang dibahas mengandung suatu keanehan sekaligus keunikan. Bukan hanya dari judulnya semata yang aneh serta unik, akan tetapi juga tema yang dibedah di dalamnya. Buku itu tidak lain berjudul Ibu Susu karya Rio Johan. Sebuah buku novel yang membedah tentang sejarah Mesir Kuno. Lebih spesifiknya lagi, buku ini mencoba mengajak kita menilik kembali pentingnya manfaat dan mujarabnya air susu ibu bagi orang-orang Mesir Kuno.

Sebagaimana yang sudah saya bahas di awal tulisan, air susu ibu adalah hal yang teramat berharga bagi saya. Saking berharganya, air susu ibu juga lah yang membentuk saya sampai jadi seperti sekarang. Dan bukan tidak mungkin, karena air susu ibu pula saya masih bisa terus bertahan dan tetap hidup, meskipun pada waktu itu lahir dalam kondisi umur kehamilan yang prematur. Saya rasa, tidak ada kata maupun tindakan yang tepat dan cukup mewakili rasa terima kasih saya kepada ibu, kepada air susunya dan kepada kasihnya yang sepanjang masa.

Salah satu momen yang menjadi titik balik kehidupan saya adalah ketika adik pertama saya lahir. Walaupun saya masih teramat bocah waktu itu, saya sudah mengerti artinya berbagi. Mulai dari berbagi orang tua yang sama, berbagi untuk mendapatkan perhatian, dan berbagi agar tidak muncul keirian antara saya dan adik saya. Ingatan masa kecil tersebut kembali muncul setelah saya menyelesaikan membaca buku Rio ini. Saya seperti diajak bernostalgia menyusuri lorong-lorong kenangan yang berliku dan curam, tetapi sangat indah jika diingat kembali.

Buku karya Rio ini begitu memikat karena tema dan bahasan yang disodorkan. Selain mengingatkan dengan kisahnya Nabi Musa, buku ini seperti arsip tua yang segar dan besar manfaatnya jika dibaca kembali. Buku ini juga ibarat ruang pertemuan, yang merekam peristiwa yang bisa jadi sudah terlupakan atau dilupakan. Semacam ruangan yang sengaja dibangun untuk memunculkan kembali warisan sebuah peradaban, baik itu yang terkubur oleh waktu ataupun keadaan.

Walau terdapat keterbatasan baik dari rekaman peristiwa serta hasil finalnya, tetap saja buku ini membawa banyak harapan bagi saya. Buku yang ditulis dengan menyusuri peninggalan-peninggalan Mesir Kuno di berbagai negara ini, adalah hasil kerja keras dari seorang Rio saya rasa. Rio dengan kapabel menyuguhkan sebuah sejarah yang segar kepada seluruh generasi, dan susunannya seperti disuguhkan dalam komposisi terbaik kepada pembaca. Maka sangat cocok apabila buku ini disebut sebagai buku yang lintas generasi dan lintas zaman.

Di Indonesia sendiri, tampaknya sudah sangat jarang—jika tidak bisa disebut mustahil—kita temui adanya seorang ibu susu sekarang ini. Pada waktu saya kecil dulu, saya masih sempat menemui seorang ibu susu, yang sebenarnya juga tidak murni seorang ibu susu apabila dibandingan dengan sosok ibu susu yang ada di buku ini. Ingatan saya itu tertuju pada salah satu tetangga saya dulu, yang saya sebut dengan panggilan bude. Bude ini perawakannya gemuk, dan mengingatkan saya dengan sosok perempuan Iksa yang ada di dalam buku ini.

Jika diingat kembali, bude tetangga saya tadi memang memiliki banyak anak. Bisa jadi karena faktor tersebut pula bude memiliki persediaan susu yang banyak. Jika dibandingkan dengan ibu saya, bude menjadi sangat mirip dengan perempuan Iksa yang ada di dalam buku ini, dan ibu saya menjadi mirip Meth istri utama dari Firaun Theb. Dan yang mirip Pangeran Sem di sini adalah adik saya tadi. Selain pernah menyusui adik saya, bude ini pula yang membantu persalinan adik kedua saya, dan jujur saya akui kalau bude adalah orang yang sangat baik.

Salah satu kejadian lucu, yang berkaitan dengan susu dan ibu susu ialah pada saat saya menanyakan hal tersebut pada adik pertama saya. Waktu itu saya menanyakan mana yang lebih enak air susu ibu saya atau air susu bude. Adik saya menjawab kalau lebih enak air susu ibu saya, dan berkata air susu bude sedikit masam. Saya yang masih bocah waktu itu langsung menanyakan kepada ibu saya, apakah benar begitu adanya. Ibu saya hanya menjawab ‘bisa jadi’, karena memang bisa saja itu dipengaruhi faktor asupan yang masuk ke tubuh.

Belum puas dengan jawaban itu, saya lalu sedikit menyanggahnya, dan mengingatkan ibu saya karena pernah memberitahu kalau rasa air susu ibu itu adalah tawar. Dengan bijaknya, ibu hanya menjawab bahwa itu juga tergantung dari yang meminum. Kemudian rasa penasaran saya cukup sampai di situ, sebab juga sudah tidak mungkin apabila saya ingin mencicipi air susu lagi. Saya pribadi mengucapkan terima kasih kepada Rio dan bukunya ini. Selain yang sudah saya sebut di atas, buku ini juga seperti pengingat bagi saya untuk tidak melupakan jasa baik dari seorang ibu.

Tidak banyak sebenarnya yang saya bisa ungkapkan setelah membaca buku ini, selebihnya silahkan para pembaca langsung menyelaminya saja. Yang jelas, buku ini mengajarkan banyak hal yang patut diingat sampai kapan pun. Dari semua tokoh yang ada, saya pribadi sangat mengidolakan sosok Meth, dan entah kenapa sosoknya secara tidak langsung mengingatkan saya pada ibu saya. Pada akhirnya, buku ini tidak hanya mengajak kita memahami diksi-diksi rumit dan tidak biasa, tetapi juga melatih kita untuk terbiasa menikmati aneka istilah yang ada.