Aku yang Lain



Penulis: Vander Segra

Akhir-akhir ini, saya mengalami kendala ketika hendak menulis. Jangankan untuk menulis satu paragraf, untuk menulis satu baris kalimat saja rasanya teramat susah. Saya menghabiskan waktu yang lumayan lama untuk merangkai kata-kata yang tepat, dan berusaha menghasilkan sebuah tulisan yang setidaknya layak dibaca.

Harus saya akui, dalam kondisi seperti ini, kepala terasa penuh tetapi tidak bisa menuangkannya dalam bentuk tulisan. Rasanya, terlampau banyak yang saya pikirkan akhir-akhir ini, dan kekhawatiran berlebihan sedang menghinggapi saya.

Tebakan yang ngasal dari saya, bisa jadi kondisi yang sedang saya alami sekarang ini, salah satu sebabnya juga sudah lama tidak menghubungi orang tua, khususnya ibu. Memang, secara pribadi saya lebih dekat dengan ibu ketimbang ayah, dan segala keluh-kesah lebih sering saya ceritakan kepada ibu. Di saat-saat seperti sekarang, saya merasa kalau mendengar suara ibu adalah obat yang tepat. Meskipun, terkadang ibu sering bawel jika sedang dihubungi. Akan tetapi, bawelnya ibu itulah yang saya rindukan akhir-akhir ini.

Belum lama ini, saya mendapatkan bermacam bantuan dari seorang kenalan baru. Bantuan yang ia berikan cukup membantu saya, dan sayangnya, bantuan itu tidaklah gratis. Dalam artian, saya pribadi juga harus melakukan sesuatu sebagai jasa timbal baliknya.

Sebenarnya, apa yang harus saya lakukan tidaklah sebanding dengan apa yang telah diberikan oleh kenalan saya tadi. Malahan bisa dibilang terlalu mudah, walaupun taruhannya adalah hati nurani saya. Namun tak jadi soal, dan saya sudah menetapkan keputusan kalau saya harus melakukan hal tersebut.

Bisa dibilang, saya termasuk orang yang senang dengan yang berbau tantangan. Termasuk jasa timbal balik yang sudah saya singgung sebelumnya, saya masukkan dalam kategori tantangan. Selain untuk mengukur kapasitas dan keberanian saya sendiri, saya merasa tantangan adalah bentuk tes yang tepat bagi siapa saja.

Melalui tantangan pula, biasanya saya bisa tahu batas kemampuan yang sudah saya punya selama ini. Tidak hanya itu saja, tantangan itu selalu membuat saya berpikir cepat dan tepat ketika ingin mengambil keputusan yang berisiko.

Saya rasa, hidup saya mulai dari awal tahun ini selalu dipenuhi tantangan. Mulai dari yang berbau sepele, sampai dengan keputusan yang merombak format yang sudah saya tetapkan sebelumnya. Saya juga merasa bersyukur, dari sekian banyak keputusan yang saya ambil dan bersinggungan dengan soal tantangan, sampai hari ini tidak pernah saya sesali. Pasalnya, saya merasa mendapat balasan yang sepadan, dan mau tidak mau hal tersebut juga membantu saya menjadi lebih baik dari yang sebelumnya.

Terkadang, memang sempat terlintas rasa lelah di benak saya. Tetapi untuk menyerah, adalah kata yang sama sekali jauh dari kamus saya hari ini. Banyak hal yang saya anggap lebih penting, ketimbang saya memilih menyerah untuk waktu sekarang ini.

Seperti kata pepatah, “badai pasti berlalu dan pesta pasti berakhir”, maka saya anggap segala kesusahan yang sedang saya alami ini, hanyalah hiburan dan intermezo semata. Singkat kata, segala rasa sakit yang sudah saya lewati kurang-lebih delapan bulan ini, tidak mengendurkan semangat saya untuk hal apa pun.

Banyak faktor yang menjadi alasan saya tidak ingin menyerah sekarang, salah satunya adalah keluarga. Keluarga adalah rumah yang tak akan pernah terganti di hati saya sampai kapan pun. Ia akan selalu saya kenang meskipun harus menanggung dendam.

Keluarga sekaligus juga menjadi api semangat saya yang tak akan padam oleh hujan. Sekalipun ada perasaan bersalah yang belum bisa saya tebus dalam waktu dekat ini, saya akan bertanggung jawab dengan selayaknya. Mungkin, saya memang perlu mundur, hanya sekadar mengambil ancang-ancang untuk berlari kencang.

Bagi saya, segala kesulitan, kesusahan, dan kebuntuan yang sedang bermesraan dengan saya sekarang ini, tidaklah lebih berat dengan ujian yang pernah saya lewati. Dalam hati saya, saya terkadang berujar, kalau saya pernah melewati yang lebih berat dari ini.

Rasa putus asa yang sedang menari-nari sekarang ini, saya anggap hanyalah pertunjukan, tidak lebih. Melalui tulisan ini, sebenarnya saya ingin teriak, bahwa kalau saya mati, saya tidak ingin mati dengan rasa bersalah, dan saya juga tidak ingin hidup dengan sia-sia semata.