Amerika; Negara Super Power yang Kesepian



Di tengah kondisi yang gamang seperti awal tahun ini, kita harus bisa menerima pahitnya kenyataan, bahwa Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Dengan munculnya masalah Internasional, berupa kemungkinan perang antara Iran vs Amerika, membuat sebagian besar orang ketar-ketir jika ada indikasi perang dunia ketiga. Harus kita akui bersama, bahwa kita belum siap jika perang dunia ketiga berlangsung.

Apa yang dilakukan Amerika terhadap Iran beberapa waktu lalu, bisa kita sebut sebagai bentuk judi yang dilakukan Trump selaku pimpinan tertinggi. Ketika menguatnya isu bahwa dirinya akan dimakzulkan, Trump secara cerdik melakukan sebuah manuver yang tidak banyak terpikirkan oleh orang lain. Dengan menyerang dan membunuh jenderal besar Iran secara terbuka, Trump seperti memberi umpan agar dimakan oleh dunia yang menyaksikan. Singkatnya, Trump sedang mencoba keberuntungannya beberapa waktu lalu.

Trump masih saja dengan sombongnya mempertahankan pandangan bahwa Amerika adalah negara terkuat di dunia. Padahal, jika kita telisik lebih jauh, Amerika bukan satu-satunya lagi pemain kunci yang memegang arah percaturan politik dunia. Saat ini, kemerosotan Amerika kian banyak dibahas dan diperdebatkan. Hal ini lah yang tampaknya membuat Trump khawatir, karena diperkirakan akan berefek dengan kursi kekuasaan yang sedang didudukinya.

Amerika hari ini sedang menghadapi tantangan yang nyata. Dominasi Amerika tidak lagi mampu menghegemoni semua negara lain. Hal tersebut bukanlah isapan jempol belaka, dan mari kita lihat kenapa hal itu bisa terjadi.

Pertama, bangunan tertinggi di dunia kini terletak di Dubai. Kedua, orang terkaya sedunia berkewarganegaraan Meksiko. Ketiga, perusahaan dagang terbesar di dunia bermarkas di Tiongkok. Keempat, industri film terbesar saat ini, baik dari jumlah film maupun tiket terjual, adalah Bollywood. Kelima, pesawat terbesar di dunia dirakit di Rusia dan Ukraina. Keenam, penyulingan terbesar sedunia terletak di India, dan terakhir pabrik-pabrik terbesar sejagat berdiri di Tiongkok! Dari beberapa hal tersebut, makin tampak kalau Amerika tengah disusul oleh para pesaingnya.

Hampir tiga puluh tahun yang lalu, Amerika adalah pamuncak dalam banyak kategori. Namun kini, globalisasi telah memukul balik. Rival-rival Amerika kian makmur, dan Amerika semakin kehilangan banyak industri kunci. Pertanyaan selanjutnya, mampukah Amerika kembali mengukuhkan kekuatan dan posisinya di tataran global? Tampaknya pertanyaan itu lah yang sekarang menjadi beban bagi Donald Trump. Ia, sebagai pemimpin tertinggi Amerika hari ini, mau tidak mau, harus mampu mengembalikan mimpi Amerika yang semakin hari makin terkubur.

Selama seperempat abad lebih, semenjak runtuhnya komunisme, Amerika mendominasi dunia tanpa kompetitor sejati di bidang politik atau pun ekonomi. Hal itu menjadikan Amerika bebas, karena tidak ada negara lain yang mampu membatasi kehendaknya. Seiring berjalannya waktu, dugaan kuat saya, Amerika adalah negara yang kesepian karena tidak ada yang mampu mengimbanginya dalam hal apa pun. Oleh karena itu, Amerika selalu mencoba mencari perhatian dengan melakukan serangkaian kebijakan yang menuai kontroversi.

Layaknya orang yang kesepian, Amerika, mencoba mencari kawan agar dirinya tidak benar-benar sendiri. Lalu diperangi lah Irak dan dijadikan sebagai negara bonekanya Amerika. Tidak lupa sebelumnya, Arab Saudi ditaklukkan olehnya dan dijadikan sebagai bawahan. Tidak cukup dengan itu, terlihat bagaimana Amerika beberapa waktu terakhir mencoba menaklukkan Iran. Sayangnya, Iran sebagai sebuah negara tidak mampu dipecah belah, dan tidak mau takluk terhadap kehendak dari “sang super power.”

Apa yang dilakukan dan akan dilakukan oleh Amerika, menurut hemat saya adalah tetap penyakit dari negara yang sekian lama kesepian. Hasrat untuk menghilangkan rasa kesepian tersebut, tidak akan pernah bisa hilang dari benak Amerika secara keseluruhan. Paling banyak, Amerika di kemudian hari hanya akan mengurangi sedikit manuver-manuver gilanya.

Sebagai negara super power, sudah menjadi sebuah keharusan bahwa Amerika punya orientasi yang jelas. Akan tetapi, keperkasaan Amerika selama ini membuatnya percaya bahwa tidak perlu yang namanya skala prioritas. Terlebih selama era kepemimpinan Trump, yang tipikalnya lebih berani mengambil risiko, Amerika diarahkan menggarap isu yang sifatnya lebih sektoral dan insidental.

Dalam persaingan global seperti sekarang, masih sering kita temui Amerika dengan seenaknya melanggar kesepakatan Internasional. Kebijakan luar negeri Amerika seringkali bertentangan dengan kesepakatan global. Amerika masih sering seenaknya sendiri demi melindungi kepentingannya, yang seringkali adalah kepentingan sempit dan hasrat sesaat. Hal itu akan berefek kepada negara lain, yang dalam beberapa waktu ini mulai menyangi Amerika. Negara-negara pesaing tersebut juga akan dengan seenaknya sendiri, karena mencontoh Amerika sebagai role model.

Singkat kata, kekacauan global hari ini, tidak terlepas dari sumbangsih besar yang diberikan oleh Amerika. Amerika seakan-akan tidak mampu memahami kebutuhannya hari ini. Efek jangka panjangnya, di mata dunia, Amerika kehilangan legitimasinya. Kehilangan legitimasi merupakan penyakit kronis tersendiri bagi sebuah negara yang mengaku super power. Kesimpulannya, Amerika seperti tidak mampu lagi berfikir secara asimetris. Jika hal ini diteruskan, maka tidak mungkin posisi Amerika akan kehilangan daya tawar di mata dunia.

Sudah sangat cukup kiranya, bagi Indonesia dan negara-negara dunia ketiga yang lain, untuk takut dan muak dengan skenario yang dibuat dan dijalankan Amerika. Berdasarkan hampir semua tolak ukur objektif, Amerika sedang menempati posisi yang tidak bagus saat ini. Amerika sudah menjadi bangsa yang akan selalu dirundung keresahan, khawatir dengan ancaman-ancaman dari luar. Amerika akan selalu ketakutan dengan hantu yang mereka ciptakan sendiri. Pelajaran yang bisa kita ambil, jangan sampai Indonesia terjebak dalam skenario yang dibuat dan dijalankan Amerika hari ini.