Merawat Ruang Imajiner



IDENTITAS BUKU
Judul : Tanah Air Imajiner
Penulis : Salman Rushdie
Penerjemah : Rozi Kembara
Penerbit : Circa
Cetakan : Agustus, 2019
Tebal : vi+74

Menulis adalah proses mengeluarkan hasil bacaan. Sama halnya dengan membaca, menulis selalu memiliki kendala dan kejutan tersendiri di dalamnya. David Malouf pernah berkata, “musuh sejati dalam proses menulis adalah berbicara.” Sebenarnya, saya tidak terlalu sepakat dengan hal itu. Bagi saya, musuh abadi dalam menulis adalah ekspektasi dari penulis itu sendiri. Sebab, ekspektasi adalah candu yang memabukkan, dan bukan tidak mungkin, seorang penulis (pemula) bisa jadi akan terjebak dalam sindrom gayang semacam ini.

Barangkali, apa yang saya sampaikan ini terdengar sumbang dan agak berlebihan, jika melihat kualitas pribadi saya sebagai penulis pemula. Tapi tak mengapa dan mari kita lanjutkan dulu. Alih-alih tunduk dan selalu patuh dengan bayang-bayang penulis besar, bukankah alangkah baiknya kita berani keluar dari tempurung yang mengekang semacam itu?

Senada dengan Paulo Coelho, Salman Rushdie adalah orang yang secara tidak langsung membangkitkan semangat saya untuk terus menulis. Belum lama ini, terhitung sejak tujuh bulan yang lalu, saya kembali ke dunia sastra. Dunia yang mengantarkan saya menyelami lautan imajinasi. Dengan rasa tulus yang penuh, saya merelakan diri untuk tenggelam di dalamnya. Saya menyadari hal ini belum ada seminggu terakhir. Awalnya, saya merasa kalau saya sudah sangat lama kembali ke dunia sastra, padahal nyatanya belum ada sampai setahun.

Berbicara soal sastra, sulit saya pungkiri bahwa sastra punya peran yang cukup besar dalam hidup saya. Buku-buku sastra yang pernah saya baca, adalah jembatan yang mengarahkan saya untuk memahami isi dunia. Dari dan oleh sastra juga, setidaknya saya dapat merasakan bahwa hidup saya berwarna. Dengan sastra pula, terkadang saya merasa bisa sampai ke titik di mana sesuatu itu bisa dianggap aneh tetapi sangat dekat dengan keseharian saya.

Sejujurnya, saya tidak terlalu kenal dengan sosok Salman Rusdhie. Saya mengetahuinya dari beberapa obrolan yang berlangsung, baik itu di meja warung kopi, atau tempat di mana sastra dibincang habis-habisan. Boleh dikatakan, dengan barunya saya membaca tulisan Salman Rushdie, saya sedikit ketinggalan dari beberapa teman yang lebih dulu menyelami dunia sastra. Namun, saya merasa beruntung karena buku Salman yang saya baca pertama kali adalah kumpulan esainya yang terjemahan.

Meskipun Salman adalah sastrawan besar, dengan nama yang menjulang tinggi, serta pamor yang layak untuk dikagumi, saya belum menemukan tanda kesombongan pada dirinya. Sebaliknya, saya merasa kalau saya sebagai orang yang awam ini, pantas-pantas saja apabila mengaku ingin menjadi temannya.

Saat membuka lembaran awal buku Salman yang berjudul Tanah Air Imajiner ini, saya menemukan kecocokan frekuensi, antara Salman dengan sosok Mario Vargas Llosa. Sebagaimana yang dikatakan Llosa, “banyak ketidakpastian tentang pekerjaan literer,” Salman menyambutnya dan mengatakan bahwa perpaduan antara ketidakmenentuan dengan ambisi, yang pada akhirnya bisa melahirkan gagasan baru. Dan dengan tanpa adanya sebuah kebetulan, baik Llosa dan Salman adalah orang yang tidak menyerah dengan zaman menurut saya.

Kelima esai Salman yang ada di buku ini, secara tidak langsung menegaskan perjuangan seseorang yang terus berkelahi dengan keadaan. Baik itu keadaan yang mendukung sekaligus memperdaya, atau pun dengan keadaan yang menghambat tetapi diolahnya menjadi penyemangat.

Dengan kata lain, buku ini adalah bukti bahwa perjuangan itu harus terus dilaksanakan. Walaupun keadaan tidak berpihak sepenuhnya kepada kita. Dan apablila kita lebih memilih menyerah, menandakan kalau sebenarnya kita tidak mampu menangkap maksud semesta. Semesta yang saya maksud di sini adalah semesta kepenulisan. Sebab, jika kita menyepakati ucapan Paulo Coelho yang berkata bahwa “semesta akan selalu mendukung yang kita inginkan,” lantas kenapa kita tidak berani meminta semesta agar bersabar sedikit saja, sedikit lebih lama lagi?

Saya akui, selain memiliki kemampuan untuk merangkai kata penyemangat (terkhusus pada penulis pemula), Salman adalah orang yang lihai menangkap kesempatan dalam setiap kondisi. Ia tidak ujug-ujug berdiri dan hadir sebagai penengah dari perdebatan yang berlangsung, baik itu dari kalangan sastrawan, atau pun dari kalangan kritikus sastra. Selanjutnya, ia juga tidak hadir sebagai orang bijak yang dengan sekuat hati menjaga wibawanya. Malahan, ia dengan besar hati mengakui bahwa masih banyak kekurangan yang dimiilikinya.

Harus saya tambahkan pula, Salman adalah tipikal orang yang jernih pandangannya. Dengan ketelitian yang ia punya, baik itu ketika membaca keruhnya keadaan yang mengklaim asas kebenaran atas sastra, dan kanonisasi atas sastra itu sendiri, tidak menjadikan Salman tercerabut keberpihakannya. Seperti yang ia sampaikan dan saya tankap dari buku ini, “bahwa keberanian untuk keluar dari keadaan yang tidak didasarkan pada keberpihakan dan perjuangan yang jelas, adalah sebenar-benarnya keberanian yang dimiliki oleh orang yang bersih hatinya.”

Pada akhirnya, tentu saja banyak risiko yang datang menghampiri Salman karena tindakannya yang semacam ini. Dikecam, dihina, diremehkan, dan lain sebagainya, menjadi rangkaian yang harus dilewati olehnya. Tetapi itu bagi saya bukanlah masalah yang layak menjadikan seseorang untuk menyerah begitu saja. Karena boleh jadi, segala risiko yang membuat kita terjungkal dari tepian umum seperti itu, yang nantinya dapat mengantarkan kita pada keluasan. Baik itu keluasan hati, pikiran, dan perasaan.