Monster Sampah



Penulis: Abdullah Ariansyah

Sampah menjadi salah satu sumber permasalahan bagi lingkungan hidup kita dewasa ini. Sampah tidak hanya menjadi pekerjaan rumah yang belum selesai bagi masyarakat Indonesia, tetapi juga di seluruh negara lainnya. Ada salah satu jenis sampah yang bisa dibilang sebagai monster sampah, yaitu plastik. Sampah plastik sewaktu-waktu bisa menjadi monster karena sifatnya tidak mudah terurai, proses pengolahannya menimbulkan toksik dan bersifat karsinogenik, serta membutuhkan waktu sampai ratusan tahun baru bisa terurai secara alami.

Sulit dipungkiri, monster satu ini selain penghuni tetap di dunia kita sekarang, dia juga mampu membentuk kerajaannya sendiri. Contohnya saja, apabila dalam satu hari kita mengumpulkan seluruh plastik di Indonesia, ukurannya bisa sebesar candi Borobudur. Menyeramkan bukan? Melihat dari sejarah kemunculannya, monster (plastik) tersebut hadir sebagai solusi alternatif. Hal ini lantaran untuk menjawab keresahan umat manusia terkait jumlah pohon yang harus ditebang. Kantong belanja yang awalnya terbuat dari kertas, dialihkan menjadi kantong plastik sebagaimana yang kita kenal sekarang.

Kantong plsatik ini pertama kali ditemukan oleh seorang pria asal Swedia, bernama Sten Gustaf Thulin pada tahun 1907. Awalnya, kantong plastik ini diperkenalkan sebagai materi 1000 kegunaan, akan tetapi semakin lama kantong plastik menjadi masalah besar pencemaran lingkungan yang belum dapat kita tanggulangi. Saban hari, kantong plastik tidak lagi terlihat fantastik, namun menjadi katastropik.

Bangsa Indonesia sendiri, awal mula kenal dengan kantong plastik ketika Jepang hadir, dan pemakaian kantong plastik menjadi tren baru pada waktu itu. Barulah pada tahun 1950, mulai berdiri pabrik-pabrik plastik di Indonesia.

Di Indonesia sendiri, kantong plastik sempat menjadi polemik. Kurang-lebih lima belas tahun lalu, plastik pernah menjadi bencana, dan menimbulkan korban jiwa hampir 150 orang. Tragedi yang tragis itu terjadi di TPA Leuwigjah, Cimahi, Jawa Barat 21 Februari 2005. Insiden ini terjadi karena kondisi TPA yang kurang bagus, curah hujan yang tinggi, dan ledakan gas metana pada tumpukan sampah yang membentuk gunung. Sehingga, dua kampung di sekitar TPA Leuwigjah, hilang dari peta karena tergulung longsoran sampah.

Indonesia mengenang tragedi tragis tersebut dan diperingati secara rutin pada 21 Februari. 21 Ferbruari juga sekaligus disahkan sebagai hari peduli sampah nasional. Selain berfungsi untuk mengenang korban jiwa pada saat itu, juga sebagai renungan kita bersama. Terutama untuk kita pribadi masing-masing, agar lebih peduli terhadap lingkungan. Upaya tersebut bisa dilakukan minimal dengan mengurangi penggunaan kantong plastik, serta pengolahan sampah yang baik secara pribadi, maupun skala besar yang melibatkan pemerintah tentang pengolahan sampah di TPA.

Ironisnya lagi, Indonesia berada di posisi ke-2 penghasil sampah terbesar di dunia setelah Cina. Dengan menghasilkan sampah plastik sebanyak 67,8 juta ton timbunan sampah nasional di tahun 2020. Ditambah lagi, terdapat pula kasus impor sampah plastik bercampur limbah bahan beracun dan berbahaya (B3) di tahun 2019. Dengan hal ini, layak kiranya kita mempertanyakan jargon Indonesia bebas sampah plastik, sebab dalam pengolahannya saja masih gagal. Belum lagi jika ditambah kasus skandal impor sampah yang melukai hati masyarakat, terutama para aktivis lingkungan.

Bicara perihal siapa yang pantas disalahkan, menurut saya itu hanya membuang waktu dan percuma. Karena yang saya lihat, sekarang kita terkesan saling menyalahkan, tanpa introspeksi diri terlebih dahulu. Lingkungan kita sekarang butuh solus, dan solusinya ada di kita. Bukankah setiap suatu permasalahan pasti ada jalan keluarnya? Yang kita butuhkan adalah bersungguh-sungguh dan konsisten sampai lingkungan tidak rusak dan tercemar lagi.

Jika kita terbiasa membuang sampah seenaknya sendiri, maka mulai dari sekarang ubahlah kebiasaan buruk tersebut. Tentu masalah sampah ini sudah menjadi tanggung jawab semua pihak, baik itu masyarakat, pemerintah dan industri-industri sekitar. Kampanye sosialisasi saja menurut saya tidak akan cukup, sebab lingkungan hari ini membutuhkan aksi nyata.

Tentu saja aksi nyata yang berkelanjutan, bukan hanya sekedar musiman atau kebutuhan story Instagram. Hal ini bisa ita laksanakan mulai dari diri kita sendiri, sebab "kalau bukan kita siapa lagi, dan kalau bukan sekarang kapan lagi?" Sejak usia dini, mari kita biasakan untuk membuang sampah pada tempatnya, mulai membiasakan memakai tumbler dan tasbelanja totebag, dan semaksimal mungkin, jangan menggunakan barang yang sekali pakai.

Sudah seharusnya, anak muda di zaman sekarang bisa menciptakan peluang ketika menghadapi suatu persoalan, misalnya sampah plastik yang saya singgung dari tadi. Sampah plastik sebenarnya jika kita kelola dengan baik, bisa menghasilkan nilai ekonomi yang sangat besar, bahkan bisa menjadi bisnis yang menjanjikan.

Jika Indonesia tidak melakukan kebijakan dan upaya-upaya yang luar biasa (extraodinary effort) dan hanya sebatas business as usual saja, maka diperkirakan pada tahun 2050, komposisi sampah kita akan lebih dari dua kali lipat," ujar Alue Dohong, wakil menteri lingkungan hidup.


Asal Sumatera Selatan, Kampus Institut Teknologi Yogyakarta, Jurusan Teknik Lingkungan. Bisa ditemui di IG: dulaariansyah21, FB: Dula Ariansyah abd