Perpisahan, Kepulangan, dan Kenangan




IDENTITAS BUKU

Judul : Dari Hari ke Hari
Penulis: Mahbub Djunaidi
Penerbit: Pustaka Jaya
Cetakan: 2006
Tebal: 164

Sebagai orang yang hidupnya sering pindah-pindah, perpisahan adalah hal yang biasa bagi saya. Baik itu perpisahan dengan keluarga yang benar-benar keluarga, keluarga yang bertemu di perantauan, teman-teman sebaya, dan tempat-tempat favorit atau bersejarah bagi saya.

Dalam setiap perpisahan itu, air mata menjadi teman setia yang selalu menabahkan. Rindu yang terpendam dan hasrat ingin bertemu kembali, menjadi doping dengan takaran yang sangat tepat. Dan jika saya ditanya, apa ada yang sangat disayangkan dari perpisahan, maka jawabannya teramat banyak.

Saya rasa, setiap perpisahan itu selalu menyisakan dan menciptakan ruang tersendiri. Ruang yang minta dijaga, dirawat dan diperhatikan. Perpisahan memang bukanlah akhir dari segalanya.

Bisa jadi perpisahan adalah awal yang baru. Yang mendewasakan kita serta mendidik kita agar bisa berdamai dengan waktu. Sebab sulit dipungkiri, antara manusia dan waktu selalu memperebutkan yang namanya keabadian.

Antara manusia dan waktu, bertarung dan bertengkar adalah hal yang biasa. Oleh sebab itu pula, akan lahir nanti yang namanya kebijaksanaan.

Dengan beberapa perpisahan yang sudah saya alami, membuat saya mendapatkan pengalaman yang lebih ketimbang teman-teman saya. Lebih dalam artian soal kesempatan.

Mulai dari kesempatan mengenal lebih banyak orang, kesempatan untuk beradaptasi dengan lingkungan yang baru, kesempatan mempelajari hal-hal tertentu, dan kesempatan-kesempatan lainnya.

Dari beberapa perpisahan itu pula saya akhirnya sadar, bahwa jiwa saya ditempa dan diarahkan untuk menjadi seorang pengembara. Pengembara yang tak mengenal kata menyerah dengan keadaan.

Setidaknya, beragam pengalaman hidup sudah saya dapatkan dari beberapa kali perpisahan tersebut. Banyak kenangan terukir di tempat yang pernah saya tinggali, baik dalam kurun waktu yang sebentar atau yang cukup lama.

Beberapa kenangan saya yang tercecer tersebut terkadang muncul secara tiba-tiba, menyeruak minta diingat dan memaksa saya berpikir. Bahwa menghindari perpisahan bukanlah hal yang tepat.

Dan alhasil saya paham, setidaknya saya harus selalu mempersiapkan perpisahan yang sudah menjadi niscaya nantinya.

Segala kenangan dan ingatan soal perpisahan itu muncul kembali, setelah saya menuntaskan membaca buku Mahbub Djunaidi, yang berjudul Dari Hari ke Hari.

Buku yang menjadi jejak dan bukti penulisnya pernah menyaksikan percikan revolusi ini, memantik ingatan saya kembali ke masa-masa kecil dulu. Tepat pada saat saya belum pernah membayangkan kalau nanti akan berpindah-pindah tempat tinggal.

Persis di mana saya masih belum mengenal kata sedih, belum mengerti gambaran soal berpisah dengan teman, dan cuma ada kata bahagia di kamus saya.

Buku ini seperti mengatakan, “bacalah aku, maka aku akan menuntunmu menyusuri jalan kenangan yang pernah kau buat.” Apa yang ditulis Mahbub dalam buku ini, menjadi penanda zamannya, sekaligus pembeda bagi zaman setelahnya.

Kecerdesan dan keluguan seorang bocah yang dipakai Mahbub menarasikan cerita di dalamnya, terkesan mewakili kondisi pada waktu itu. Selain itu, buku ini memiliki nuansa awal-awal kemerdekaan yang begitu kuat. Meskipun, Mahbub juga sedikit berlebihan menggunakan bocah sebagai perantara ceritanya.

Beberapa hal yang terdapat dalam buku ini, seperti kepercayaan, kekhawatiran, ketidakmenentuan, ketakutan, dan harapan, dirajaut oleh Mahbub menjadi jejaring kisah yang sangat sayang jika dilewatkan.

Setidaknya, melalui buku ini kita bisa sedikit mengerti dan paham tentang betapa mencekamnya ketika Belanda mencoba menginvasi kembali Indonesia.

Pembungihangusan suatu daerah, yang seharusnya dapat menggetarkan jiwa seseorang ketika menyaksikannya secara langsung, bisa digambarkan oleh Mahbub dengan begitu adil.

Usaha Mahbub menulis buku ini, pantas saya sebut sebagai sebuah usaha untuk merawat ingatan berharganya. Buku ini juga perpaduan dari imajinasi Mahbub yang sudah lumayan lama terlepas dari kisah masa kecilnya.

Akan tetapi, Mahbub tetap dengan konsisten berpegang kepada fakta. Dengan kata lain, Mahbub tidak ngawur ketika menyampaikan bahwa Solo adalah daerah yang pernah dihancurkan secara sengaja.

Dihancurkan tentu saja dalam rangka mencegah kehancuran yang lebih parah lagi.

Setiap tokoh dalam buku ini, secara tidak langsung mewakili watak orang-orang yang ada pada zaman cerita diambil.

Mulai dari seorang anak yang harus beradaptasi dengan lingkungan baru karena sebuah keterpaksaan (adanya penjajahan), seorang ayah yang nasionalis tetapi pada akhirnya berkompromi dengan keadaan sebab ada anggota keluarga yang butuh makan.

seorang ibu yang tegar tetapi hatinya menangis dan tersiksa dengan keadaan, sampai seorang pedagang yang ingin melebarkan pengaruh dengan menjadi politisi.

Dari beberapa latar tempat yang disajikan, gerbong kereta menjadi kunci utama serta saksi perubahan dari angggota keluarga si aku tokoh utama dalam cerita.

Perubahan status yang didapatkan oleh beberapa tokoh dalam buku ini, selain memberi kesan bahwa penderitaan akan berakhir, sekaligus menjadi petunjuk kalau kebahagiaan itu tidak akan pernah utuh jika hanya mengandalkan keadaan yang sedang berlangsung.

Entah itu keluar dari kesulitan ekonomi, selesainya perang, atau pun terakuinya kemerdekaan Indonesia secara legal dan formal.

Saya pribadi tidak akan menjelaskan semangat revolusi yang dibawa Mahbub dalam buku ini. Tetapi lebih cenderung soal keberpihakan yang semestinya harus jelas.

Walaupun sulit untuk dipungkiri, sebuah keberpihakan dan kecintaan seseorang pada sesuatu itu sering kali harus mengorbankan sesuatu yang lain.

Pada akhirnya, saya berterima kasih pada Mahbub karena telah mengangkat sepenggal sejarah yang bisa jadi tidak penting di kalangan petinggi kita, tetapi sebenarnya mampu mengobarkan semangat kecintaan pada sesuatu yang kita anggap benar.