Wahhabi, Wahhabisme, dan Rahasia di Baliknya



Membincang tentang Wahhabi, tentu perlu waktu yang tidak bisa dibilang sebentar. Banyak hal yang sampai ke bagian terkecilnya, harus benar-benar kita pahami dan kuasai. Agar, tidak terjadi yang namanya kesalahpahaman.

Tahun 2020 adalah tahun yang panjang saya rasa. Di awal tahun ini, Indonesia, adalah salah satu negara di dunia yang harus melakukan hibernasi sejenak karena wabah Covid-19. Tidak berhenti sampai di situ, tahun ini juga adalah tahun yang menyedihkan.

Pasalnya, di sekian banyak sendi kehidupan, baik ekonomi, bisnis, usaha-usaha kecil, sampai dunia literasi, semuanya mengalami kelesuan. Hal ini yang kemudian, membuat dunia literasi kita harus menemukan cara untuk bangkit kembali. Sebelum pada akhirnya, mengalami sebuah kebuntuan yang tidak diinginkan.

Sama halnya dengan tahun ini yang sudah saya singgung di atas sebelumnya. Wahhabi adalah perihal sepanjang dan sedalam apa pengetahuanmu. Bukan tentang siapa yang paling benar di antara kita. Karena kita pada dasarnya adalah pewaris dari orang-orang yang pernah hidup sebelumnya. Termasuk juga kita hanya diwariskan sesuatu oleh generasi awal atau pendiri Wahabi.

Perjalanan panjang sejarah Wahhabi, sama panjangnya dengan akibat-akibat yang ditimbulkan olehnya. Wahhabi tidak lagi sekadar menjadi semacam mazhab yang kaku, saklek, dan sangat taat aturan, seperti yang diinginkan oleh pendirinya Muhammad bin Abdul Wahhab. Akan tetapi, sudah bertransformasi ke purwa rupa dan macam bentuk hingga hari ini. Hal ini yang kemudian menjadi penting, untuk kita mengkaji buku tentang Wahabi terbaru—dan dianggap paling komprehensif—yang ditulis oleh Nur Khalik Ridwan.

Buku ini, secara tidak langsung ingin mengakhiri perdebatan panjang antara pendukung Wahhabi—yang biasanya fanatik—dengan para pengkritik Wahhabi. Sudah sedari awal, kekeliruan dalam melihat dan menafsirkan Wahhabi menjadi sesuatu yang sulit untuk dipisahkan. Oleh karena itu, hadirnya buku Sejarah Lengkap Wahhabi ini, seakan membawa angin segar bagi keberagamaan kita.

Buku yang ditulis oleh penganut hizbut tahlil ini, bukan ditujukan untuk menyalah-nyalahkan paham Wahhabi seperti yang kita kenal sekarang. Lebih jauh dari itu, penulis buku ini bertujuan agar cara kita memahami dan menilai Wahhabi tidak serampangan. Yang pada selanjutnya, menjadikan kita supaya lebih bijak ketika sedang menghadapi sesuatu, termasuk ketika sedang berdebat dengan orang-orang Wahhabi sendiri.

Lalu, ada sebuah pertanyaan yang harusnya kita jawab setelah membaca buku ini. Pertanyaan yang bisa dibilang tidak penting-penting amat. Namun, jika diabaikan pada akhirnya juga puya dampak yang tidak kecil. Pertanyaannya ialah, “mana yang lebih penting, muslim di pedesaan atau muslim di perkotaan yang harusnya membaca buku Wahhabi ini?”

Nah, jika kita dihadapkan kepada satu pilihan, dan hanya boleh memilih salah satu, maka kita pribadi akan terjatuh pada dualitas atau dualisme itu sendiri. Karena, Wahhabi secara ideologi, sudah punya pengaruh terhadap keduanya. Baik itu muslim di pedesaan, dan muslim perkotaan. Hal ini pulalah yang penulis buku ini sampaikan, dan selanjutnya menjadi sebuah tantangan yang berarti. Arkian apabila terus kita remehkan, bukan tidak mungkin paham Wahhabilah yang pada akhirnya dianggap sebagai satu-satunya kebenaran.

Counter Wacana dan Pembalikan Logika Sederhana

Di tengah menjamurnya paham Islam yang saklek, berwajah garang, dan sering kali memaksa, serta sama sekali tidak memudahkan penganutnya, maka salahkah kalau kita bertanya, di manakah wajah Islam yang lemah lembut, toleran, dan mengasyikkan itu? Apakah sudah tidak ada sama sekali, Islam seperti yang diajarkan Rasulullah? Islam yang penuh kasih sayang, Islam yang merajut keindahan, dan Islam yang menolak permusuhan.

Sekadar penjelasan, Islam datang kepada kita dengan membawa kedamaian, bukan? Lantas, kenapa selanjutnya Islam yang membawa kedamaian itu, berubah menjadi Islam yang selalu mengedepankan pedang dan ancaman? Atau minimal menakutkan bagi para pemeluknya, dan menakutkan pula bagi mereka yang tidak berada di dalamnya? Siapakah yang patut kita mintai pertanggungjawaban atas hal tersebut? Lalu bagaimana caranya, agar Islam tidak lagi mengandung unsur kebencian di dalamnya?

Beberapa pertanyaan di atas, saya dapatkan setelah mengkhatamkan buku Wahhabi ini. Keberhasilan Wahhabi atau Wahhabisme hari ini, nyatanya tidak terlepas dari upaya mereka mengubah wajah Islam sedemikian rupa. Seperti yang sudah saya singgung sebelumnya, hari ini paham Wahhabi sudah menampakkan pengaruhnya baik di muslim pedesaan maupun perkotaan. Oleh karena itu, wacana dan paham Wahhabi yang sering kali memaksakan kehendaknya ini, sudah harus dicounter mulai dari sekarang.

Bukankah Islam sendiri tidak pernah mengajarkan memaksa, apalagi merugikan para pemeluknya? Lantas, kenapa Wahhabisme sering memaksa? Yang seakan-akan, mereka anggap bahwa apa yang dilakukan mereka sudah sesuai dengan yang diajarkan Rasulullah dan para sahabat. Curiga saya, Wahhabisme bermaksud dan terobsesi untuk mengislamkan kembali umat Islam. Entahlah, kita bisa cari tahu hal ini lebih lanjut nantinya.

Buku ini memang bisa disebut berupaya membantah sekian banyak kesalahan berpikir yang terdapat pada pengikut Wahhabi. Tetapi menariknya, bantahan yang ada di dalam buku ini tidak disampaikan secara ngotot, seperti yang biasa dilakukan oleh para pengikut Wahhabi. Nur Khalik Ridwan dengan amat piawai memakai logika-logika sederhana, untuk menjelaskan kekusutan logika berpikir pengikut Wahhabi. Misalnya saja, ia mempertanyakan klaim Wahhabi sebagai pengikut salaf.

Biasanya, Wahhabi digolongkan dan mendaku diri sebagai pengikut dan penerus ulama salaf. Tapi masalahnya, seperti yang disampaikan Nur Khalik Ridwan, Wahhabi adalah salaf yang berwajah paling puritan dan radikal. Tidak hanya itu, masalahnya para pengikut Wahhabi juga sering pilih-pilih ulama salaf. Dengan kata lain, yang mereka sebut ulama salaf, juga tergantung dari kebutuhan meraka. Maksud dibalik itu ialah, ulama salaf yang mereka jadikan panutan ialah ulama yang mendukung dan dapat melegitimasi aksi-aksi kekerasan mereka.

Yang tidak habis pikirnya lagi, ulama yang mereka klaim diteruskan dakwah serta perjuangannya itu, terkadang tidak dipahami betul-betul sepak terjang dan cara berpikirnya. Hal ini selanjutnya membuktikan, bahwa mereka (pengikut Wahhabi), juga sangat serampangan. Atau dengan kata lain, asal main comot-sana-comot-sini, asalkan memenuhi kriteria yang menurut mereka pas dengan mereka. Bahkan, yang kurang pas pun akan dibuat pas oleh mereka. Caranya dengan mengambil sebagian pendapat ulama yang mereka comot tadi, dan menghilangkan sebagian pendapat lainnya, walaupun dari ulama yang sama.

Logika sederhana yang dipaparkan di buku ini, yang tentu saja menjungkirbalikkan logika yang dikemukakan banyak pengikut Wahhabi, selanjutnya ialah mempertanyakan keberadaan Wahhabi yang kuat serta dominan di tanah Arab khusunya, dan Timur Tengah pada umumnya. Jika kita bertanya pada pengkut Wahhabi soal itu, tentu kebanyakan dari mereka akan menjawab; “Bahwa ajaran mereka yang dirahmati oleh Allah. Karena mereka merawat dan menjaga kemurnian Islam seperti yang diajarkan Rasulullah dan para Sahabat.”

Kalau tidak seperti itu, jawaban lainnya ialah; “Bahwa ajaran mereka yang paling benar. Karena mereka adalah orang-orang yang menolak bid’ah.” Berangkat dari logika yang semacam itu, Nur Khalik Ridwan mempertanyakan asal-usul Wahhabi sampai kepada silsilah pendirinya, dan apa yang terjadi selama pendiri Wahhabi yaitu Muhammad bin Abdul Wahhab selama mengkampanyekan dakwahnya? Apakah pendiri sekte Wahhabi sendiri tidak mengalami kendala selama berdakwah?

Dari pertanyaan tersebut saja, kita akan mendapat bermacam-macam jawaban yang dibuat agar menutupi celah kekurangan pada sosok pendiri Wahhabi. Dan lagi, kita akan menemukan argumentasi yang telah dilacak oleh penulis buku ini, perihal upaya pembingkaian dan penyusunan strategis agar Wahhabi tampil sebagai ajaran yang langsung diutus dari langit. Sampai di sini saja, kita tidak perlu bersusah payah memperdebatkan kitab-kitab yang menjadi rujukan para pengikut Wahhabi. Karena, sudah sangat jelas kekurangan yang terlihat dari sekte Wahhabi ini.

Wahhabisme dan Seharusnya Kita

Jika melihat kegersangan ajaran yang dibawa oleh paham Wahhabi, serta melihat ketipisan kitab yang ditulis oleh pendirinya, membuat kita mengetahui ada sebuah upaya dan usaha kerja keras dari para pengikutnya. Hal ini tidak lain tidak bukan karena para pengikut Wahhabi pasti merasa perlu menambahinya, agar ajarannya Muhammad bin Abdul Wahhab, bisa disebut ideal dan mampu melegitimasi serangannya terhadap muslim lain. Yang tentu saja tidak bersepakat dengan apa yang diajarkan pendiri Wahhabi, dan kampanye dari pengikut Wahhabi sendiri.

Tentang dakwahnya Muhammad bin Abdul Wahhab, di dalam buku ini dijelaskan bahwa, para pengikutnya menggambarkan kalau dakwahnya tidak pernah menemui rintangan yang berarti. Maka oleh pengikut Wahhabi bisa disebut, ajarannya adalah yang paling diberkati oleh Allah.

Padahal, bukankah untuk mengkampanyekan sebuah kebaikan pasti akan selalu menemui rintangan yang tidak kecil? Contohnya saja Rasulullah, ketika mengajak orang-orang di sekitarnya untuk masuk Islam, berapa kali dan apa saja cobaan yang harus dilalui Rasulullah? Tidak terhitung bukan, kepahitan dan penghinaan yang didapat oleh Rasulullah? Karena apa? Karena Rasulullah tidak pernah memaksakan kehendaknya, bukan? Padahal jika Rasulullah mau, bukan hal yang mustahil saya kira, untuk mengislamkan sekaligus orang yang ada di tanah Arab pada waktu itu.

Hal ini yang sungguh berkebalikan dengan pendapatnya para pengikut Wahhabi hari ini. Digambarkan, pendiri Wahhabi tidak pernah mendapat rintangan yang berarti ketika mengkampanyekan dakwahnya. Padahal, dalam buku ini terlihat jelas, kalau dakwah pendiri Wahhabi sejak dari keluarganya saja sudah ditentang. Hal ini juga yang selama ini coba ditutup-tutupi oleh pendiri Wahhabi dan para pengikutnya hingga hari ini. Untuk apa hal itu kira-kira? Ya tentu saja agar Wahhabi dianggap ideal dan lepas dari kekurangan sejak masih menjadi embrio kecil di tanah asalnya.

Menimbang itu semua, bagi saya pribadi, sudah waktunya bagi Nahdiyin dan Ahlussunnah wal Jamaah mengkampanyekan Islam yang toleran secara lebih ‘radikal’ dan ‘militan’. Bukan karena hanya untuk membongkar apa saja yang ditutupi oleh pendiri Wahabi dan para pengikutnya hingga hari ini. Akan tetapi, agar juga bisa menjelaskan bahwa kebiasaan Timur Tengah adalah konflik dan perang. Yang kebanyakan berangkat dari keinginan untuk menguasai dan menindas mereka-mereka yang kalah.

Kesimpulannya, sampai kapan kita yang menolak paham dan ajaran Wahhabi akan diam saja? Akankah kita menunggu sampai pedang mereka sampai di depan leher kita, baru kita akan bertindak? Ataukah menunggu Arab Saudi melancarkan serangannya secara terbuka? Saya rasa, akan menjadi sebuah kekeliruan yang teramat fatal jika kita hanya duduk-diam, dan menunggu Wahhabisme meneruskan dakwahnya. Karena tidak bisa dipungkiri, pengaruh Wahhabi sudah sangat masif hari ini, dan memengaruhi sampai ke lingkup terkecil keislaman kita.

Sebagi penutup, saya akan menyampaikan bahwa buku ini tidak hanya sekadar mengasyikkan untuk dibaca. Namun juga sangat jelas sebagai penunjuk, bahwa ber-Islam itu tidak bisa diseragamkan, apalagi dipaksakan. Akan selalu ada pertautan antar budaya yang berjalin kelindan di dalamnya.

Oleh karena itu, mari kita baca buku ini. Minimal agar kita tahu wajah Wahhabi dan Wahhabisme yang sebenarnya seperti apa. Atau, supaya kita tidak menjadi umat Islam yang kerjaannya suka memaksa dan membenci umat Islam yang lain. Apalagi sampai memaksa dan membenci umat agama lain. Karena mengedepankan rasa persaudaraan itu lebih nikmat, bukan? Ketimbang membenci dan menyalah-nyalahkan yang sering kali hanyalah pekerjan yang melelahkan.


IDENTITAS BUKU
Judul : Sejarah Lengkap Wahhabi (Perjalanan Panjang Sejarah, Doktrin, Amaliyah dan Pergulatannya)
Penulis : Nur Khalik Ridwan
Penerbit: IRCiSoD
Cetakan : Maret, 2020
Tebal : 834 hlmn