Belajar dari Mimpi yang Akhirnya Terwujud



“Mimpi memang sering kali hanyalah bunga tidur. Akan tetapi, terkadang kita juga menjadikan mimpi sebagai patokan perjalanan hidup ke depan.

Tidak hanya itu, mimpi seperti arena untuk kita bergelut dengan segala realitas yang coba kita kendalikan. Lucunya lagi, mimpi kita anggap bisa dikendalikan sepenuhnya. Sebab, kita merasa bahwa kita yang menciptakannya.

Padahal, nyatanya mimpi juga tidak akan pernah sesuai dengan apa yang kita harapkan.”

Dulu sekali, ketika awal-awal saya berkenalan dengan Facebook, lalu akrab dengannya, dan aktif memainkannya, ada salah satu kolom di bio profil saya yang selalu ingin saya isi. Kolom ini sejatinya memang tidak penting-penting banget. Bahkan, bisa dibilang tidak ada pengaruhnya ketika diisi atau tidak. Akan tetapi, entah kenapa sejak melihatnya dulu, saya bermimpi untuk bisa mengisinya dengan benar. Dan pada akhirnya, mimpi saya tersebut sekarang sudah terwujud. Ya, mimpi itu sebenarnya sangat remeh—untuk ukuran di masa sekarang—yaitu mengisi kolom website.

Baca Juga :
- MAKAN PAGI PITO
- Merdeka 100% dari Pandemi dan Tirani



Tujuh tahun yang lalu, ketika pertama kali punya akun Facebook, saya sudah mengisi kolom website tersebut dengan nama website yang ngawur atau asal-asalan. Tentu saja nama websitenya adalah nama saya. Dulu, saya merasa kalau punya website adalah hal yang keren, elegan dan semacamnya. Dan untuk ukuran tujuh tahun yang lalu, bisa saya pastikan bahwa hal tersebut terbilang langka dan istimewa bagi orang yang tinggal di pedesaan.

Namun, sekarang perasaan itu menjadi terbalik 360°. Yang awalnya saya hanya merasa keren jika punya website, berubah menjadi merasa punya tanggung jawab yang besar dan mencoba bersikap senatural mungkin. Saya serasa ditampar dengan keras ketika mengetahui kenyataan yang sebenarnya. Dan seiring berjalannya waktu, saya merasa saya hanyalah pemula dari para dewa yang sudah lebih dulu memasuki duni per-website-an.

Baca Juga :
- Merawat Ruang Imajiner
- Generasi Milenial


Untuk ukuran orang yang belum ada setahun mengelola website, saya sudah bisa belajar banyak hal. Mulai dari pengalaman mengumpulkan tim, memanajemen tim tersebut, mempertahankan tim, sampai merasakan tim bubar karena kesalahan saya sendiri yang kurang sabaran dan emosian. Secara tidak langsung, saya benar-benar merasakan apa yang disebut dengan merintis sesuatu. Memang, banyak jalan terjal dan berlikunya. Bahkan, rasa putus asa juga tidak luput menghinggapi saya. Tetapi, saya merasa beruntung karena masih punya alasan untuk terus bertahan.

Di sini, saya hanya akan membagi pengalaman saya yang berawal dari sekadar mimpi. Sekaligus kembali menegaskan pernyataan di awal tadi, yaitu soal mimpi yang tidak selalu sesuai harapan sang pemimpi. Serta, saya juga ingin mengajak para pembaca untuk terus memupuk, merawat, dan menjaga semua mimpi yang pernah terpikirkan. Alasannya sederhana, sebab bagi saya, setiap mimpi itu selalu menarik untuk didengarkan. Bahkan, tidak ada salahnya jika seseorang belajar sesuatu dari mimpi orang lain, bukan?

Baca Juga :
- Amerika; Negara Super Power yang Kesepian
- Cintaku Berdaulat Fobia


PERJALANAN HIDUP

Hidup itu sejatinya proses belajar bagi saya. Baik-buruk, benar-salah, menang-kalah, cinta-benci, tawa-duka, dan sekian banyak lagi hal lainnya, tidak menutup kemungkinan akan kita temui semua. Oleh sebab itu pula, saya tidak jarang menjadikan mimpi sebagai wadah pembelajaran. Menjadikannya tempat untuk saya melawan rasa takut. Membentuknya seperti rumah imajinasi agar berani dan yakin terhadap keinginan sendiri. Serta berdamai dengannya jika pada suatu saat saya mengalami kendala dan kegagalan di pertengahan jalan.

Tentu bukanlah sebuah persoalan apabila seseorang dengan pemikiran yang logis, kurang memercayai mimpi dalam hal ini. Saya juga tidak akan membantah jika ada orang yang sangat berpegang pada pemikiran logisnya. Titik tekannya di sini bukanlah benar-salahnya. Akan tetapi cara menghargai mimpi dan usaha untuk mewujudkannya.

Baca Juga :
- Apa yang Lebih Gersang, Feminisme atau Ilmu Ekonomi? - Lewis Capaldi dan Lambang Harapan


Sebagai anak pertama dari empat bersaudara, banyak sekali sebenarnya mimpi yang saya pegang. Bahkan, saya pun pernah secara tidak langsung membuat janji dengan adik laki-laki saya. Janji itu sederhana, dan kami memang punya mimpi yang sama, yaitu membahagiakan kedua orang tua. Kesalingpahaman antara kami berdua, membuat saya merasa beruntung memiliki adik seperti dirinya. Saya harap, ia juga merasakan sebaliknya.

Percayalah, tidak ada kesia-siaan dari sebuah mimpi. Terkadang manusia memang perlu sesekali bermimpi untuk menambah serta memacu semangat yang sempat kendor. Selagi kita terus berusaha dan berani mencoba, tidak akan ada salahnya ketika kita sering mengalami tertundanya keberhasilan. Tidak jarang, ini hanyalah soal waktu dan momentum. Setidaknya jika kita masih percaya Tuhan, tentu Ia akan tidak pernah ingkar janji pada hambanya yang setia untuk tetap berusaha. Jadi, nikmat mana lagi yang akan terus kita ingkari?

Saya memang bukanlah orang yang suci dan tanpa cela. Sebaliknya, saya merasa kalau saya memiliki segudang kekurangan dan kesalahan. Namun, semua itu pada akhirnya saya jadikan pembelajaran untuk terus memperbaiki diri, berkaca atas semua yang pernah saya perbuat, dan berusaha untuk terus menasihati diri sendiri. Sebab saya tahu betul, banyak orang dan bisa jadi saya termasuk di dalamnya, selalu lebih pintar ketika menceramahi orang lain. Namun selalu menjadi pengecut untuk menegur diri sendiri dan berdalih untuk selalu benar.

Baca Juga :
- Sebuah Seni Memahami Perempuan - Seperti Kasam, Nestapa Harus Dibayar Tandas


Sekali lagi, mari kita terus bermimpi meskipun hidup di lingkungan atau di lingkaran yang penuh ilusi. Setiap kesalahan yang pernah kita perbuat, bukan menjadi beban yang harus selalu kita ratapi. Ada kalanya, kita harus berani menertawakan segala kesalahan sekaligus kebodohan yang tidak disebabkan oleh kita sendiri. Dan untuk itu, mari kita terus belajar dari mimpi-mimpi kecil kita yang pernah terwujud. Jika merasa belum ada, coba dicari kembali. Siapa tahu kamu hanya sekedar lupa untuk melihatnya lebih teliti lagi.