Harta, Kasta, Dan Cinta!



IDENTITAS BUKU
Judul: Tarian Bumi
Penulis : Oka Rusmini
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal : 176
Terbit: Cetakan 3, Maret 2017

Bali adalah surga dunia. Sebuah pulau yang memendam berjuta-juta cerita. Sebuah tempat yang belum tentu seabad kita bisa memahaminya. Sebuah lokasi yang selalu mengundang banyak tanda tanya bagi yang belum pernah mengunjunginya. Dan merupakan sebuah kawasan yang mampu menyimpan segala angan.

Sebagai orang yang sama sekali belum pernah menginjakkan kakinya di tanah Bali, bayangan saya tentang Bali hanya berdasarkan apa yang saya lihat dalam gambar virtual. Sedari kecil, yang saya tahu, Bali adalah tempat wisata yang nantinya harus sempat saya kunjungi. Kalau tidak salah ingat, saya pertama kali tahu Bali ketika kelas 3 SD. Saya mengetahui secuil informasi tentangnya hanya melalui acara FTV waktu itu. Dan entah mengapa, saya merasa keindahan alamnya terkadang seperti memanggil-manggil saya.
Segala keindahan serta ciri khas yang tergambar dari Bali, sepertinya hanya satu sisi yang melekat padanya. Nyatanya, boleh jadi masih banyak hal lain yang masih jarang diketahui orang. Misalnya, seperti kebudayaan yang menemani dan menjaga Bali sebagai suatu entitas sampai hari ini. Dari kebudayaan ini tentu banyak sekali turunannya, sehingga, layak kalau kita perbincangkan lebih lanjut, bukan?

Sebelum masuk ke tujuan utama saya, yaitu mengulas buku Oka Rusmini yang berjudul Tarian Bumi, saya rasa tidak perlu ada perdebatan panjang ketika pendefinisian saya terhadap Bali sangat berkekurangan. Sebab, selaku orang desa yang hidup di pedalaman, apa yang saya bisa sampaikan ketika mendefinisikan tempat yang belum pernah saya kunjungi, akan selalu terbatas dengan seberapa informasi yang saya serap. Oleh karena itu pula, saya akan berusaha mengulas buku yang memotret sebagian tentang Bali ini seadil mungkin.
Baca Juga :
Rangkulan Sulung untuk Sulung
Refleksi Perjuangan Anti Kekerasan Seksual
Informasi tambahan tentang Bali, saya dapat setelah menonton film Raditya Dika yang berjudul Single 2. Dari film tersebut, alasan saya ingin mengunjungi Bali semakin bertumbuh. Nuansa Bali yang selalu tergambar indah dan estetik, tersaji cukup baik di film itu. Belum lagi ditambah dengan alur filmnya yang memang sedikit dramatis dan anti klimaks. Sayangnya, dari beberapa informasi yang sudah saya terima, belum ada yang menyajikan sisi lain dari Bali. Sebut saja sisi yang jarang tampak atau tersaji untuk khalayak yang luas.

Barulah, dari buku Oka Rusmini yang akan saya ulas ini, setidaknya saya mengerti kenapa Bali bisa menjadi Primadona. Bukan hanya primadona bagi turis lokal semata, tapi juga turis Internasional.

Baca Juga :
Perpisahan, Kepulangan, dan Kenangan

BALI BUKAN HANYA SOAL KEINDAHAN

Buku yang ditulis ketika umur saya belum genap satu dekade ini, adalah buku yang mencoba membuka mata orang-orang di luar Bali. Buku ini saya anggap tidak sekadar informasi tambahan yang patut diserap oleh banyak orang. Akan tetapi, buku ini juga layak menjadi panduan bagi kebanyakan orang ketika memperjuangkan kebudayaannya. Sebab, buku ini tidak hanya memotret Bali dari sisi tarian khasnya. Akan tetapi juga membawa kita pada perdebatan soal adil tidaknya hidup yang ditentukan oleh kasta.

“Peradaban tidak bisa dibeli dengan usia sekalipun.”

Tampaknya, sejarah hari ini masih dikuasai oleh para pemenang. Pemenang dalam hal ini belum tentu ia atau mereka yang benar. Seperti yang banyak kita ketahui, sejarahlah yang pada akhirnya sedikit-banyak menentukan alur kehidupan suatu peradaban, negara, koloni, dan rombongan kecil lainnya. Maka, menjadi sangat absurd ketika muncul wacana dari Menteri Pendidikan hari ini, yang ingin menghapus mata pelajaran sejarah. Bukankah kita yang ada hari ini adalah produk dari sejarah masa lampau? Yang boleh jadi hanya beruntung bisa bertahan sampai sekarang.
Baca Juga :
Seperti Kasam, Nestapa Harus Dibayar Tandas
Untuk konteks di Indonesia sendiri, sejarah sering kali dipahami hitam-putih. Hitam yang kemungkinan tidaklah hitam, dan putih yang barangkali sesungguhnya bukan putih. Oleh sebab itu, hadirnya buku Oka Rusmini ini seperti angin segar yang mendewasakan kita. Agar tidak menilai suatu persoalan secara serampangan, karena setiap hidup akan memiliki ciri dan warna tersendiri. Dan yang perlu kita ingat serta sadari bersama, pemenang lebih sering ialah mereka yang memiliki harta dan terlepas dari yang namanya kesusahan, kelaparan, dan penderitaan.

KEBENARAN YANG TERSIMPAN

Sebenarnya, saya juga tidak sepenuhnya sepakat dengan isi buku ini. Kritik saya terhadap buku ini terletak untuk bagian awal buku. Saya merasa terkadang Oka terlalu menggebu-gebu ketika mengkritik laki-laki atau sistem patriarki yang telah beruat akar. Hal tersebut yang kemudian menjadikan kritik Oka terasa kurang tepat sasaran. Padahal, sebagai orang yang ingin membongkar hal tersebut, saya meyakini Oka tahu betul dengan banyak ketimpangan yang terjadi pada perempuan, khususnya perempuan yang terlahir dari kasta yang tidak istimewa.

“Menginginkan dan memimpikan bertukar peran dengan orang lain, jamak kita temui menjadi harapan kebanyakan orang hari ini. Padahal, porsi kehidupan yang harus dilalui setiap manusia berbeda-beda.”

Bagi saya, kritik Oka terhadap eksploitasi perempuan yang terselip dalam buku ini, pada akhirnya malah menjadi tersamarkan. Sebab, saya menemukan ada sedikit kecemasan ketika berbicara soal laki-laki. Meskipun Oka juga menyajikan krtiknya untuk semua tingkatan kasta yang ada di Bali, tetapi hal ini yang kemudian menjadi tidak maksimal. Karena Oka sendiri luput membedah secara lebih lanjut kebiasaan laki-laki yang ada di Bali. Misalnya kebiasaan laki-laki nongkrong dari pagi sampai sore—yang entah masih ada atau tidak sekarang—dan memasrahkan banyak urusan pada perempuan.

Walau begitu, saya tetap merasa beruntung pernah membaca buku ini. Melalu buku ini, saya akhirnya paham dengan apa yang disampaikan Saras Dewi di akun twitternya. Yaitu mengenai kenapa perempuan Bali lebih “memilih berpeluh ketimbang mengeluh”. Dari kisah yang ada di buku ini, alhasil saya mengerti bahwa prinsip dan kebeneran yang dipegang oleh masyarakat Bali, tidak hanya berdasarkan penilaian pribadi. Namun juga tetap berlandaskan pada nilai-nilai filosofis yang sudah menjadi bagian dan landasan ketika menjalani kehidupan.
Kendatipun buku ini kurang kuat dalam penggambaran setiap tokohnya, alur cerita dalam buku ini sangat menarik untuk diikuti. Kemampuan Oka dalam menjahit jejaring cerita yang ruwet, sekaligus menjadi upayanya membela orang-orang minoritas. Seperti orang yang kecenderungan seksualitasnya penyuka sesama jenis bahkan biseksual, yang kemungkinan besar masih menjadi tabu pada waktu itu. Dari situ pula, maka tidak salah kalau saya menyebut Oka sebagai orang yang melampaui zamannya dan membaca zaman secara lebih luas.

“Mencintai itu memang menyakitkan. Oleh sebab itu, kita perlu rasa cemas agar kita tahu arti dari ketakutan yang semestinya kita hadapi ketika menjalani hidup ini.”