Rangkulan Sulung untuk Sulung



Dalam sebuah kehidupan kita tidak pernah tau akan lahir dari rahim yang mana. Kehidupan adalah sebuah perjuangan dari yang lemah akan menjadi kuat dan yang kuat harus bisa menguatkan. Bahkan, makna dari kehidupan menurut saya sendiri ialah sebuah proses, perjalanan dan perjuangan setiap makhluk untuk bertahan hidup.

Dalam sebuah proses, perjalanan dan perjuangan makhluk untuk bertahan hidup akan lebih menarik untuk dibahas. Salah satunya ialah kehidupan seorang sulung, yang mana kehidupannya inilah yang tidak banyak diketahui oleh masyarakat.
Kehidupan sulung bagi seorang yang melihatnya dari sebelah mata, hanya akan memandang bahwa kehidupannya sangatlah bahagia, supel, enjoy, enak dan hal-hal menarik lainnya. Tapi, tidak banyak yang tau bahwa kehidupan sang sulung telah dikonstruksi sejak dulu untuk menjadi seseorang yang kuat seperti baja. Sulung juga manusia, begitulah salah satu kalimat penyemangat yang sering bertebaran dalam sosial media.

Salah satu contoh kecilnya ialah sejak kelahiran anak ke dua ke dunia. Sebagian orangtua akan menasihati anak sulungnya untuk berperilaku layaknya seorang kakak, yang dapat melindungi dan mengayomi adiknya hingga dewasa. Dalam film NKTCHI, seorang sulung digambarkan bahwa keselamatan adik adalah tanggung jawabnya. Dan jika sang adik terluka, maka yang disalahkan pertama kali oleh orang tua adalah sulung. Sebab, sebagai seorang kakak ia tidak bisa menjaga keselamatan sang adik dengan baik.

Jika sang adik terluka, maka yang disalahkan pertama kali oleh orang tua adalah sulung


Film NKTCHI juga berhasil membuka mata kita semua, bahwa kurangnya komunikasi dalam keluarga dapat menjadikan rusaknya makna kekeluargaan dalam lingkaran keluarga inti. Hal ini juga dapat menimbulkan asumsi-asumsi baru, bahwa rumah tidak selalu rumah. Sebab, rumah yang selayaknya dijadikan tempat untuk tinggal, kembali dan recharger energi beralih menjadi bibit baru yang melahirkan keresahan dan masalah baru lainnya.

Sebagain besar perawakan seorang sulung, sering kali ditampilkan atau tampak seperti gagah, kuat dan multitalenta. Padahal, ia juga memiliki sisi kelemahan dan masalah yang biasanya hanya ia pendam sendiri. Bahkan, permasalahan hidupnya jauh lebih banyak daripada masalah yang dialami oleh adik-adiknya.

Baca Juga : Sebuah Seni Memahami Perempuan

Hanya saja, sulung lebih memilih untuk memendamnya lalu mengabaikannya. Hal-hal seperti inilah yang sebenarnya akibat dari adanya asumsi yang kurang berdasar. Bahwa, seorang kakak atau sulung harus bisa menjadi payung bagi keluarganya, sebisa mungkin nampak kuat, dan lain sebagainya.

Angga, sebagai salah satu pemeran anak sulung dalam film NKTCHI, begitu jelas menggambarkan kehidupan sebagai anak pertama. Ia adalah seorang laki-laki dengan beragam kesibukan. Belum lagi ditambah tuntutan dari sang ayah, untuk selalu melindungi dan memastikan adik-adiknya kembali ke rumah dalam keadaan aman.

Hal tersebut jika dibayangkan, mungkin hanya sebagian besar yang mampu dan sebagian laiinya merasa iba. Lalu, bagaimanakah jika seorang Angga ialah perempuan? Apakah ia sama kuatnya dengan laki-laki sulung?

Lika-liku kehidupan dan cara bertahan seseorang memiliki seninya masing-masing, termasuk seni bertahan hidup. Kekuatan perempuan dengan laki-laki jelas berbeda. Hal tersebut juga tidak serta merta menggaris bawahi bahwa perempuan sulung lebih lemah daripada laki-laki sulung. Semua kuat semua mengutakan, begitulah slogan penulis.

Beberapa teman yang berhasil saya wawancarai dan notabene seorang perempuan sulung, ternyata masalah yang dihadapi dan cara mereka menyelesaikan masalah ialah dengan bercerita, membagi keluh kesanhya dengan pasangan, atau lebih memilih untuk menyelesaikan masalahnya sendiri.

Cara mereka menyelesaikan masalah ialah dengan bercerita, membagi keluh kesanhya dengan pasangan, atau lebih memilih untuk menyelesaikan masalahnya sendiri.


Dilansir dari m.fimela.com, perempuan sulung memiliki kebiasaan yang hampir dimiliki oleh sebagian besar perempuan sulung.

Pertama, ia memiliki banyak keinginan yang harus segera ia lakukan padahal tubuh yang ia miliki hanyalah tubuhnya sendiri. Oleh sebab itu, ia cinderung lupa untuk memiliki jeda dari kesibuknnya.

Kedua, pikirannya cinderung ramai. Keramaian pikiran yang ia miliki tidak lain karena hal-hal yang menjadi target dalam hidupnya sangatlah banyak. Oleh sebab itu, perempuan sulung lebih agresif, positif, berani dan cepat dalam mengambil keputusan. Kecepatannya dalam mengambil keputusan hampir selalu berbuah matang. Sebab, ia selalu berhati-hati dan konseskuen dengan apa yang telah ia ambil.

Ketiga, lebih sering menyembunyikan kerapuhan dalam dirinya. Dalam poin terakhir ini, menurut hasil wawancara penulis, ternyata sebagian besar responden membenarkan akan kebiasaan tersebut. Memilih menyembunyikan kerapuhan yang terjadi dan mengabaikannya begitu saja, naytanya juga membuat masalah tak kunjung selesai. Akan tetapi, kehidupan selalu memberikan warna baru termasuk seni perempuan sulung dalam bertahan hidup.

Baca Juga : Refleksi Perjuangan Anti Kekerasan Seksual

Sulung juga manusia, sulung bukanlah robot. Ia memiliki tubuh dengan beragam hak-hak yang seharusnya dapat ia rasakan. Tuntutan kehidupan yang banyak berhasil menjadikanmu manusia yang tangguh, manusia yang dapat merangkul sesama manusia. Akan tetapi perlu diingat bahwa sulung layak untuk memiliki jeda dan layak untuk merasakan kebahagian. Tetaplah kuat wahai sulung !!!


Penulis
Ainul Luthfia Al Firda
Perempuan sulung berusia 24 tahun yang sedang meneruskan studi di Pekerja Sosial UIN Sunan Kalijaga.
Owner bisnis kain tenun @Nikiwaetenun