Sebuah Seni Memahami Perempuan


Sebuah Seni Memahami Perempuan

Penulis : Ainul Luthfia Al Firda

Identitas Buku
Judul : Perempuan
Penulis : M. Quraish Shihab
Penerbit : Lentera Hati
Tebal : 453 halaman; 19 cm
Terbit : Cetakan 1, April 2018

Nampaknya, berbicara tentang perempuan akan melahirkan banyak pandangan. Perempuan adalah sebagian dari manusia yang diciptakan oleh Allah dengan berbagai keistimewaan sifat dan perilaku.

Maksudnya ialah perempuan juga seorang manusia yang seharusnya diperlakukan sama dengan jenis kelamin lainnya. Akan tetapi persamaan tersebut tidak serta merta menarik kesimpulan bahwa segala tindak-tanduk perempuan harus dipukul rata dengan laki-laki.

Oleh sebab itu saya menganggap bahwa memahami perempuan itu ada seninya.

Buku yang ditulis oleh M.Quraish Shihab dengan judul Perempuan merupakan buku yang sangat menarik untuk dibaca. Apalagi di dalam sekapur sirih tersebut beliau menuliskan

“Kalau memang kita belum atau tidak mengetahui sepenuhnya seluk beluk perempuan wajarkah kita melangkah dan mengarahkan mereka bertentangan dengan tuntutan Pencipta perempuan, bahkan Pencipta alam raya? Jika itu yang kita tempuh, kita telah memasuki wilayah yang bukan wilayah kita” (hlm. xiv)

Di dalam buku ini, beliau sangat santun dan hati-hati dalam menuliskan hal-hal yang berhubungan dengan perempuan.

Selain itu, di dalam buku ini beliau juga menghubungkan dengan sejarah dahulu, kisah-kisah ulama hebat, para ilmuwan terkemuka, dan tidak ketinggalan dengan konteks saat ini.

Sehingga, buku ini sangat relevan dan cocok untuk menjadi konsumsi masyarakat yang ingin memahami seluk beluk perempuan.

Buku yang terdiri dari 23 bab ini mengulas sisi perempuan mulai dari cinta sampai seks, dari nikah mut’ah sampai nikah Sunnah, dan dari bias lama sampai bias baru. Kata kunci tersebut dicantumkannya di cover depan buku.

Hal menarik lainnya dalam buku ini ialah cover depan dengan gambar perempuan menggunakan kerudung yang seakan menggambarkan ciri perempuan muslimah.

Sebelum membaca isi dalam buku, pada bab pertama yang membicarakan tentang perbedaan laki-laki dan perempuan, beliau menegaskan dalam tulisannya “Penulis akan sangat sedih bahkan marah, jika melecehkan perempuan hanya karena dia adalah perempuan”.

Ini menjadi alasan bahwa tulisan beliau benar-benar menekankan bahwa manusia diciptakan untuk saling memahami dan menghargai, tanpa harus memandang jenis kelamin.

Diantara 23 bab dalam buku ini, saya hanya akan mengulas beberapa bab.

PERTAMA

Tentang perbedaan lelaki dan perempuan. Allah menciptakan manusia untuk saling berpasang-pasangan, perempuan tidak akan bisa hidup sendiri tanpa didampingi oleh lelaki dan begitu juga sebaliknya dengan lelaki.

Sebab keberpasangan mengandung persamaan sekaligus perbedaan. Kedua hal tersebut harus diketahui agar manusia dapat bekerja sama menuju cita-cita kemanusiaan (hlm. 7).

M. Quraish Shihab juga menuliskan beberapa perbedaan yang menurutnya boleh diterima atau tidak, dan boleh jadi perbedaan itu menjadi kebalikannya.

Salah satu diantaranya ialah, perempuan menganggap pernikahan sebagai stasiun terakhir dalam perjalanan hidupnya, sedangkan lelaki memandangnya sebagai salah satu stasiun pilihan, selanjutnya dia akan melanjutkan perjalanannya (hlm.23).

Perbedaan tersebut menurut saya benar adanya, apalagi jika dilihat dari kehidupan sebagian mahasiswi semester akhir yang sedang menulis skripsi.

Mereka akan lebih sering menjadikan pernikahan adalah stasiun terakhir dari pada pusing menulis skripsi. Hal tersebut bukan berarti bahwa perempuan patah semangat dalam mengerjakan skripsi, melainkan sebuah bahan candaan yang bertujuan untuk memupuk kembali semangat yang sempat meredup

Sedangkan menurut pengamatan saya, sebagian mahasiswa laki-laki yang sedang mengerjakan skripsi,cenderung menjadikannya sebuah tuntutan agar segera menikahi perempuan pilihannya,guna melanjutkan perjalanan hidupnya yang lain.

Perbedaan tersebut,menurut M. Quraish Shihab sangatlah tipis. Akan tetapi, perkara persamaan tidak bisa dituntut sepenuhnya dalam berbagai hal. Sebab laki-laki maupun perempuan, memiliki sisi keistimewaan masing-masing, termasuk dalam memaknai pernikahan.

KEDUA

Perempuan dan cinta. Topik ini merupakan salah satu bab yang paling menarik untuk diulas. Pertama, beliau menjelaskan tentang definisi cinta yang hakiki itu seperti apa dan bagaimana sejarah cinta itu berasal. Beliau juga menuliskan tentang perbedaan cinta dan nafsu yang sedang digandrungi para milenial saat ini.

Bagi perempuan, cinta adalah harapan, bahkan hidup adalah cinta, sehingga perempuan bersedia berkorban demi cintanya. Cinta yang ditulis oleh beliau pada bab ini bukan saja cinta kepada lelaki sebagai pacar atau suami, melainkan juga kepada anak bahkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa (hlm.87).

Cinta menurut M. Quraish Shihab ialah sesuatu yang mengundang dan mendorong pecinta untuk melakukan aneka aktivitas terpuji, seperti keberanian, kedermawanan, pengorbanan dan sebagainya. Cinta melahirkan gerak positif (hlm. 103).

Sedangkan nafsu adalah sesuatu yang mendorong dan mengundang pecinta untuk menjauhi hal positif, bahkan menjauhkan dari Allah dan norma-norma sosial. Di dalam hubungan yang berlandaskan nafsu, juga sering menimbulkan kebosanan sehingga mudah silih berganti.

Salah satu contoh akibat banyaknya kesalahan para milenial yang mengartikan hubungan asmaranya, dengan dalih cinta atau sering disebut pacaran pun beliau jelaskan.

Tidak jarang justru kesalahan yang dianggap fatal dalam pacaran juga beliau luruskan. Salah satunya ialah “kecelakaan” akibat pacaran yang melampaui batas.

Perlu diingat adanya “kecelakaan” seringkali disebabkan karena kebohongan yang selama ini didendangkan di telinga “pacar” atas nama cinta. Dan akibatnya perempuanlah yang sering menjadi korban kelalaian dalam memaknai cinta.

Yang akhirnya menghasilkan buah dari cinta berupa kehamilan yang tidak diinginkan,dan teman kencanya enggan untuk bertanggung jawab.

Terbukti, contoh di atas merupakan kebohongan atas nama cinta yang sebenarnya adalah syahwat. Syahwat akan selalu mengantar pecinta pada hal negatif yang seringkali menjauhi ajaran agama.

M. Quraish Shihab membenarkan bahwasannya sah-sah saja untuk menyalurkan rasa cinta kepada kekasih selama tidak melanggar agama dan norma budaya (hlm.97).

Selain kedua bab yang saya tuliskan di atas, menurut saya hal menarik lainnya juga dibahas dalam buku ini.

Seperti persoalan bias pandangan lama terhadap perempuan, perempuan dan kecantikan, perempuan dan politik, perempuan dan aneka aktivitas, perempuan dan seni suara, perempuan dan eksploitasi seks, dan lain sebagainya.

Menariknya, buku ini ialah cara beliau menuliskan tentang perempuan dengan sangat hati-hati. Begitu pula sebaliknya sebagai pembaca, kita juga harus hati-hati dalam memahami buku ini.

Sebab, bisa jadi kita berada pada posisi dengan pemahaman yang salah. Adapun topik-topik yang dikaji seakan tidak pernah absen dari beragam sudut pandang.

Itulah alasan mengapa buku ini sangat dianjurkan bagi mereka yang ingin mengetahui perempuan.

Sebuah Seni Memahami Perempuan
Mahasiswa Yogyakarta, dapat dijumpai di Instagram dan Twiter @Firdaainul.
Calon pengusaha tenun @nikiwaetenun