Membaca Gunter Grass Lewat Tempat yang Sulit



Sastra dunia yang kita kenal hari ini, seperti yang dikatakan Ronny Agustinus, tidak lahir dari inisiatif pemerintah, atau orang-orang besar dan terkenal yang menentukan kebijakan. Ia lahir dari ide orang-orang kecil. Lahir dari gagasan yang terkadang amat sederhana dan tidak muluk-muluk. Serta muncul karena kegelisahan terhadap realitas kehidupan di sekitarnya.

Membincang sastra memang tidak akan ada habisnya, apalagi jika yang diperbincangkan adalah sastra terjemahan. Banyak proses dan tahap yang harus dilalui, sampai akhirnya sebuah karya sastra yang dialihbahasakan bisa menemui para pembaca baru. Banyak kendala baik dari segi teknis sampai urusan perizinan, yang menjadikan karya sastra terjemahan seperti oasis di tengah padang pasir tandus. Belum berhenti sampai di situ, urusan penerjemahan karya, terlebih karya sastra, nyatanya bukanlah urusan yang murah.

Baca Juga :
- Terima Kasih Gelap, Aku telah Menemukan Terang
- Mengintip Bilik Pesantren yang Cabul


Meski begitu, tidak lantas menjadikan karya sastra terjemahan diterima begitu saja di kalangan pembaca ketika telah menjadi sebuah buku utuh. Banyak pertimbangan ketat dan ruwet yang menjadikan sebuah karya sastra terjemahan bisa diterima dan diakui sepenuhnya. Seperti sudah jamak diketahui, sastra dan sastra terjemahan selalu memiliki dimensi yang unik. Dan terkadang menjadikan sastra terjemahan semacam buah bibir yang selalu seksi untuk dibahas. Hal ini juga yang menjadikan sastra ibarat tak lekang oleh zaman, dan selalu menemukan relevansinya.

Baru-baru ini, saya berhasil menyelesaikan membaca salah satu karya sastra terjemahan, di tengah-tengah kesibukan saya sebagai seorang pengangguran. Buku yang saya maksud ini, teks aslinya berasal dari negeri Hitler, negeri yang pernah mencetak seorang pemimpin fasis dengan semangat nasionalismenya yang over. Di dalam situasi negara Jerman yang melancarkan perang, dan dengan gaya memimpin Hitler yang totaliter, menjadi salah satu faktor cikal bakal buku ini lahir.

Baca Juga :
- Cintaku Berdaulat Fobia
- Perihal Patah Hati dan Puisi Lainnya


Buku ini sebenarnya coba memotret kondisi pada waktu itu, di mana perang dunia sedang panas-panasnya. Buku ini juga sekaligus mengabadikan konteks perang dunia yang disaksikan dan dialami oleh seorang remaja secara langsung. Dengan gaya bercerita sang penulisnya yang sudah diakui dunia, menjadikan buku ini tidak bisa disebut sebagai karya sastra biasa. Hingga sampai-sampai, penulisnya disebut sebagai orang yang berpikiran radikal, dan banyak memengaruhi banyak pemikir yang telah membaca karyanya.

Ya, nama Gunter Wilhelm Grass atau yang akrab disapa Gunter Grass, bukanlah sembarang nama. Setidaknya ia berhasil menyadarkan banyak orang lewat kampanyenya terhadap kesadaran pasca-Nazi. Melalui pengakuannya pula, ia berhasil mencenangkan jagat sastra, lantaran membuka identitasnya yang pernah menjadi pasukan elit Nazi. Kendati demikian, di kemudian hari nyatanya Grass menjadi orang yang gencar mengkritik Nazi, dan keberpihakannya terhadap kemanusiaan tidaklah perlu diragukan lagi.

Baca Juga :
- Manunggaling Kawulo Bumi Ciptaan Gusti
- Upaya Merawat Ingatan dan Mengolah Renungan


Untuk konteks di Indonesia sendiri, kita punya salah satu nama tokoh yang terpengaruh setelah membaca karya Grass. Ia adalah Arif Budiman, kakak dari Soe Hok Gie. Arif Budiman adalah sala seorang yang mengagumi dan berkesempatan menemui serta mewawancarai Grass. Dari wawancara tersebut, Arif Budiman mengakui bahwa keberpihakan Grass mengenai lingkungan hidup sudah terbukti. Saya pun mengenal sosok Grass lewat obrolan yang sama. Berangkat dari obrolan tersebut pula, saya lalu memutuskan mencari buku Grass yang masih bisa saya akses.

Di tengah bokeknya saya dan kebutuhan yang semakin bertambah, saya berpikir akan butuh waktu yang lumayan lama sampai saya bisa membaca buku ini. Tetapi, akhirnya saya bisa mengakses buku ini setelah bercerita dengan salah seorang teman di sebuah warung kopi. Ia dengan baik hati meminjamkan buku ini untuk saya baca.

Baca Juga :
- Lewis Capaldi dan Lambang Harapan
- Cowok Suka Masak Dipuji, Cewek Suka Masak Kok Disepelekan?


Awalnya, saya mengira buku ini adalah buku fabel, persis seperti buku Animal Farm-nya Orwell. Akan tetapi, dugaan saya ternyata salah besar. Di sisi ini, saya merasa tertipu sekaligus bersyukur. Tertipu karena terlena dengan cover bukunya yang amat meyakinkan kalau isi buku adalah soal kisah para binatang. Bersyukur lantaran saya hanya menaruh praduga sebatas itu, dan memutuskan untuk tidak menebak lebih jauh lagi. Andai saja saya memilih menebak lebih jauh lagi, bisa dipastikan saya akan bertambah kecewa setelah membaca buku ini.

Saya tipikal orang yang sebisa mungkin menghindari ulasan sebuah buku. Apalagi kalau ulasan tersebut bersifat mengulas kembali atau sekadar membeberkan alur cerita yang ada di dalam buku tersebut. Alasannya amat sederhana, sebab saya tidak ingin merasa digurui dan didikte terkait bacaan. Bagi saya, ulasan semacam itu memang tidak sepenuhnya salah, tetapi saya juga tidak bisa menyebutnya sebagai sebuah kebenaran. Lain lagi halnya apabila ulasan buku yang mengkaitkan dengan pengalaman pribadi si pembaca, saya akan lebih senang jika begitu.

Baca Juga :
- Romantisme dalam "Aku Ingin"
- Seperti Kasam, Nestapa Harus Dibayar Tandas


Semakin ke sini, saya semakin menggemari ulasan yang mampu membedah sisi unik sebuah buku, dan memberikan informasi terkait pembahasan yang coba disorot oleh buku tersebut. Walaupun begitu, saya juga tidak merasa kalau ulasan saya terhadap sebuah buku sudah bisa disebut layak. Saya merasa masih jauh untuk itu, dan merasa masih perlu banyak belajar lagi. Terlebih jika mengulas buku terjemahan. Baik itu fiksi dan non fiksi.

Seperti yang sudah saya singgung di awal tulisan ini, kerja-kerja penterjemah itu bukan hal gampang dan mudah. Sependek pengalaman saya yang pernah menerjemahkan cerpen Raymond Carver, banyak kesulitan yang saya temui dalam proses penerjamahannya. Rasa malas sudah pasti menghantui. Namun, saya juga tidak menutup diri apabila hasil kerja saya dikritik, dan dihabisi sekalian. Sebab, bagi saya kritik semacam itu sangat diperlukan untuk memperluas cara pandang dan penilaian terhadap sesuatu.

Baca Juga :
- Pemulihan Wisata Pasca Pandemi Covid-19
- Perihal Patah Hati dan Puisi Lainnya


Untuk konteks buku Grass yang saya baca ini, saya tidak bisa untuk tidak berkomentar. Pasalnya, terjemahan buku ini menurut saya amat menyulitkan pembaca untuk menangkap pesan yang ingin disampaikan Grass. Dari sisi penggambaran suasana yang tergambar di buku, saya menilai kalau penerjemah kurang menguasai dan sedikit sekali mengetahui gambaran Jerman semasa perang dunia kedua. Ditambah lagi, banyak kalimat yang seharusnya bisa dipersingkat dan dicari padanan kata yang lebih sesuai dengan pembaca Indonesia.

Parahnya lagi, testimoni yang terdapat di belakang buku yang diberikan oleh New York Times, menjadi kabur sama sekali. Apabila ulasan di New York Time berpendapat bahwa buku ini mengandung cerita yang provokatif dan bertumpu pada keringkasan dan kepadatan, saya hampir tidak menemukan hal itu. Untungnya, saya masih bisa menemukan bahwa memang benar buku ini adalah cerita Grass ketika masih remaja, yang menyaksikan secara langsung perang dunia sedang berkecamuk.

Baca Juga :
- Amerika; Negara Super Power yang Kesepian
- Rangkulan Sulung untuk Sulung


Pada akhirnya, saya menyarankan bagi yang berniat membaca buku ini, setidaknya sudah harus bersiap dengan hasil terjemahan yang kurang memuaskan. Dan bersiap pula mencari informasi tambahan terkait kondisi Jerman ketika perang dunia kedua berlansung. Terakhir, saya juga tetap berterima kasih pada penerjemah yang susah bersusah payah menerjemahkan buku ini. Sekaligus saya menyampaikan hormat atas pengajarannya, yang membuat saya merasa kalau kerja-kerja penerjemah itu adalah hal yang menantang dan mampu mendatangkan kepuasan pribadi.