Mengintip Bilik Pesantren yang Cabul



Penulis: Manik Maya

Sekali waktu, semasa saya nyantri, obrolan soal seksualitas dan anatomi tubuh manusia adalah bahan obrolan yang kelewat asyik, dibanding ngaji nahwu-sharaf (gramatika bahasa arab), tauhid, atau urusan-urusan kitab kuning lainnya.

Seminggu sekali, rutin diadakan tablighan (belajar ceramah), di mana santriwan-santriwati punya kesempatan untuk unjuk kemampuan beretorika, penyampaian-penguasaan hadist, dan pemahaman ayat-ayat Qur’an.

Di balik itu semua, yang paling dinantikan oleh santriwan-santriwati, sebetulnya bukan hanya mendengar kepiawaian seorang santriwan atau santriwati dalam dalam berpidato, tetapi sebetulnya ada motif lain dibalik itu semua.

Karena cuma seminggu sekali kami bisa bertemu dalam satu forum, itu pun dengan dibentengi satir—bak tembok cina—dan dijaga cukup ketat. Kesenangan tersendiri bagi santriwan maupun santriwati bertemu dalam forum itu, meski sebetulnya cuma suara saja yang bisa kami dengar.

Pada akhirnya, kalau kelewat bosan, topik bahasan bisa cepat berubah. Misal, memandangi santriwati tampil. Bagi santriwan, memerhatikan santriwati yang tengah berbicara di atas mimbar, yang dilihat bukan saja bagaimana ia menyampaikan dan apa yang disampaikan, melainkan di luar keduanya. Imajinasi tubuh santriwatilah yang terbayang, kemudian menjadi bahasan di tengah-tengah berlangsungnya forum. Tak luput, mulai dari kerudung hingga gamis yang ia pakai, dan isi dibaliknya, menjadi obrolan perlu.

Bagi kebanyakan orang, fenomena ini dianggap sepele. Bahkan, sudah menjadi rahasia umum di kalangan santriwan, kalau bayangan (tubuh) santriwati seringkali jadi bahan obrolan cabul para santri putra.

Apapun obrolannya, ke manapun arahnya, ujung-ujungnya akan berakhir pada tubuh perempuan, seakan menjadi pandu dari obrolan terkait syurga dan neraka. Bahas t*t*knya-lah, ininya-lah, itunya-lah. Tentu saja, hal semacam ini tidak berangkat dari ruang kosong.

Pondok Pesantren diciptakan tentunya untuk membangun akhlak dan pengetahuan agama (Islam). Namun dalam prakteknya, tak jarang saya menjumpai hal-hal yang kadang bertabrakan dengan nilai-nilai yang diajarkan. Semisal, jangan mencuri. Namun, selama saya mondok dulu, barang-barang yang saya punya hampir rutin berpindah kepemilikan. Entah uang, sandal, beras, bahkan celana dalam.

Jangan mendekati zina! Namun, pikiran yang menjurus pada perbuatan zina terus dipelihara. Beberapa kali saya menyaksikan bilamana seorang santriwan kebetulan berpapasan dengan santriwati, celotehan semacam, “Eh, tuh lihat. Coba kalau dia berbaring terus pinggangnya diganjel pake bantal...”

Sebetunya, terdapat beberapa kitab yang membahas kajian soal seksualitas. Di antaranya yang paling tersohor adalah Qurratul Uyun karangan Syekh Muhammad Al-Tahami bin Madani (1718 M). Kitab yang terdiri dari 20 pasal itu berisi kajian seputar hukum dan persiapan pra-nikah, etika seksualitas laki-laki-perempuan, dan pasal terakhir menyoal pentingnya suami istri bahu-membahu membina keluarga.

Bagi santriwan-santriwati yang hendak menikah, kitab ini menjadi rujukan penting. Dalam konteks umum, Qurratul Uyuun bisa dikategorikan sebagai diktat sex education-nya kaum sarungan, kalau sulit menyasar masyarakat umum.

Meski ditujukan untuk pembelajaran seks, akan tetapi kitab yang isinya sarat dengan bahasan teknik bercinta ini justru seringkali diaplikasikan dalam konteks yang keliru. Kitab ini justru dijadikan alat untuk mengobjektivikasi tubuh perempuan.

Tentu saja, bukan kitabnya yang salah—terlepas dari isinya yang juga perlu dikritisi, tetapi sering kali cara berpikir kita yang keliru dalam memahami sebuah kitab. Uraian dan cara operasional kitab kerap ditangkap dengan nafsu berahi yang ugal-ugalan, alih-alih melalui mental pengetahuan yang siap menyerap berbagai ilmu.

Kitab ini ditulis dengan konteks realitas masa lampau, yang tentunya jauh berbeda dengan keadaan hari ini. Dulu, semangat kesetaraan antara lelaki dan perempuan adalah hal yang langka. Hari ini, realitasnya sudah jauh berbeda. Semangat pembebasan dan kesetaraan mulai meluber. Kendati demikian, otak-otak cabul dan pandangan sepele terhadap perempuan masih bertahan.

Realitas santri-santri yang cabul tidak terlepas dari peran pengajar yang tak berperspektif gender. Bila terjadi pelecehan verbal maupun non-verbal di lingkungan pesantren, kepekaan pengurus pesantren dalam menangani fenomena tersebut sangatlah tumpul.

Alih-alih meluruskan, si pengurus malah menganggap pelecehan sebagai guyonan belaka. Dengan sendirinya, tindakan kurang ajar itu mendapatkan legitimasi. Pelecehan seksual akhirnya menjadi kebiasaan “lumrah” yang mengakar dan—gawatnya—diwariskan dari generasi ke generasi.

Lambatnya pesantren dalam menerima wacana kesetaraan adalah sebab lainnya. Bahkan, pesantren yang masih terbilang konvensional cenderung menolak wacana kesetaraan. Kultur semacam ini tidak terlepas dari budaya patriarki yang lebih dulu ada, mengiringi konsumsi kaum sarungan akan kitab kuning karangan ulama-ulama misoginis.

Jika kita perhatikan, kitab-kitab klasik dikarang pada masa feodal. Di mana pada masa itu nilai-nilai patriarki masih menjadi tren tunggal. Artinya, tidak menutup kemungkinan para ulama menyerap nilai yang menjadi tren itu ke dalam kitab karangannya. Gawatnya, nilai-nilai patriarki turut memengaruhi alam pikiran para ulama dalam merumuskan tolok ukur keadilan.

Dampak serius sudah barang tentu akan dialami pihak perempuan, sebagai pihak yang selalu diobjektivikasi. Tampak mustahil bagi perempuan untuk dapat mengetahui ketertindasannya apalagi mengajukan keberatan. Sebab, lembaga tempatnya bernaung telah merapatkan pintu dari segala asupan wacana kesetaraan.

Pada akhirnya, tulisan ini bukan saya tunjukan sebagai wujud penghakiman terhadap dunia pesantren, melainkan bentuk reflektif terhadap tempat yang pernah menjadi bagian dari hidup saya. Maklum, untuk menyampaikan saran ataupun kritik pada waktu itu rasa-rasanya mustahil. Kekhawatiran saya, bilamana pesantren terus menafikan kritik dan perubahan, di masa mendatang, pesantren tak ubahnya sarang bagi praktik membelakangi, menginjak, dan meludahi nilai-nilai kemanusiaan, yang secara tidak langsung mengerdilkan nilai-nilai yang dibawa agama itu sendiri.