Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Kisah Cinta Suci Ali bin Abi Thalib dengan Fatimah binti Rosulullah | Part 2


Candaan kalong, Tembakau di tanah surga, Jiwa, dan Untukmu Yang Terhormat

Dengan desakan dari para sahabat Rasulullah, Ali pun memberanikan diri menyampaikan keinginannya untuk menikahi Fatimah. Namun di sisi lain beliau sadar, secara ekonomi tak ada yang menjanjikan pada dirinya. Hanya ada satu set baju besi dan persediaan tepung kasar untuk makan. Dikarenakan desakan sahabat yang semakin besar, Ali pun meminta waktu dua atau 3 hari untuk berfikir dan bersiap-siap.

Selama tiga hari Ali berfikir keras, hingga akhirnya beliau memberanikan dirinya serta berkata dalam hatinya “engkau pemuda sejati wahai Ali!” untuk menguatkan hati nuraninya. Selama di perjalanan, Ali selalu berdoa untuk selalu menguatkan hatinya dan meyakinkan bahwa Allah maha Kaya. Setelah sampai di hadapan Rasulullah Saw, Ali mengutarakan keinginannya unutk melamar Fatimah dengan mahar seadanya. Rasulullah menjawab lamaran Ali dengan kata-kata “Ahlan Wa Sahlan!” bersamaan dengan senyum Rasulullsh Saw.

Dengan jawaban Rasulullah Saw, akhirnya Ali pulang dengan persaan bingung, “apa maksudnya?” kata Ali dalam hatinya. Ucapan selamat datang itu sulit untuk bisa dikatakan sebagai isyarat penerimaan dan penolakan. Tapi beliau siap untuk ditolak oleh Rasulullah, itu adalah resiko yang harus diterimanya.

Dalam perjalanan pulang, Ali ditnya oleh para Sahabat tentang lamarannya.
“Bagaimana tanggapan Rosulullah Wahai saudaraku?” tanya sahabat.
“Entahlah” jawab Ali.
“Apa maksudmu?” tanya Sahabat yang kebingungan.

Menurut kalian apakah “Ahlan Wa Sahlan” berarti sebuah jawaban?” tanya Ali bingung.

Sahabat gembira dengan pertanyaan Ali tersebut dan berkata “Kata Ahlan berarti Iya dan Sahlan Berarti juga Iya. Berarti engkau mendapat dua kata Iya dalam lamaranmu, wahai saudaraku!”

“Selamat, wahai saudaraku! engkau akan menikahi Putri Rasulullah Saw yaitu Sayyidah Fatimah Ra”. Mendengar hal itu, Ali pun merasa bahagia yang tidak bisa ia bendung.

Akhirnya Ali menikahi Fatimah dengan menggadaikan baju besinya dan dengan rumah yang disumbangkan oleh para sahabatnya. Tapi Rasulullah bersikeras untuk membayar cicilan rumah Ali dan Fatimah, karena Rasulullah menganggap itu adalah hutang yang harus dibayarnya.

Dalam satu riwayat dikisahkan bahwa setelah Ali dan Fatimah menikah, Fatimah berkata kepada Ali.

“Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu, aku pernah jatuh cinta pada seorang pemuda” tegas Fatimah.

Ali pun terkejut dan berkata, “Kalau begitu mengapa engkau mau menikah denganku? Siapakah pemuda itu?” tanya Ali.

Sambil tersenyum Fatimah berkata, “Karena pemuda itu adalah dirimu”

Sungguh indah hubungan tanpa pacaran, karena jodoh sudah ditentukan oleh yang maha kuasa.

Hikmah dalam cerita ini, kita dapat mengambil pelajaran bahwa jodoh tidak mengenal harta dan tahta. Setiap cinta akan ada pengorbanan, tapi semua akan sirna dengan kekuatan untuk menghadapinya. Cinta yang haqiqi adalah cinta tanpa adanya maksiat dengan adanya pacaran. Karena pacaran adalah hal yang sia-sia serta melelahkan, jika memang ia jodohmu maka Allah akan mempersatukan kalian dengan cara baik tanpa ada pacaran.

Mahasiswa Ekonomi Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisni Islam UIN Sunan Ampel Surabaya.
Tinggal di kota Probolinggo.
Bisa dihubungi dan ditemui di
Instagram: @ryand7213, Twitter : @ryand_gaming, dan Email: ryandtix07@gmail.com

mainmain
mainmain menginspirasi dengan kreativitas

Posting Komentar untuk "Kisah Cinta Suci Ali bin Abi Thalib dengan Fatimah binti Rosulullah | Part 2"