Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Indonesia Mau Dibawa Kemana ?

3 Tips Menulis Artikel Menarik di Blog
Sebelum memulai pembahasan, kali ini penulis akan mengajak untuk sedikit mengulang pembahasan tentang perkembangan ideologi. Ada beberapa variable yang menurut penulis harus didefenisikan agar persepsi kita sama, sehingga ada dialektika yang terjadi pada saat diskusi.

MAKNA SEBUAH IDEOLOGI

Variable pertama ialah Ideologi, secara semantik atau pengertian dengan melihat asal kata, ideologi berasal dari bahasa latin yang terdiri atas 2 suku kata yaitu ideas dan logos. Ideas yang bermakna pikiran dari akal budi, sedangkan logos artinya gagasan. Sehingga bisa kita tarik kesimpulan bahwa ideologi adalah gagasan pikiran dari akal budi.

Masuk ke variable kedua paradigma secara sintaksis atau defenisi yang dipahami oleh masyarakat secara umum adalah cara pandang memahami sesuatu. Sepintas antara ideologi dan paradigma mungkin sama, akan tetapi terdapat perbedaan yang mencolok dari kedua kata ini ideologi adalah gagasan tentang pikiran, sedangkan paradigma ialah cara pandang terhadap sesuatu, contohnya melihat ideologi dengan sudut pandang yang lain, sehingga ideologi adalah objeknya paradigma adalah cara melihat ideologi tersebut.

Baca Juga :
- Menyoal Identitas dan Kesopanan Teman-teman Papua
- Apa yang Lebih Gersang, Feminisme atau Ilmu Ekonomi?

Variable ketiga yaitu disrupsi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, pengertian disrupsi adalah hal tercabut dari akarnya, yang mana secara sederhana disrupsi adalah perubahan secara drastis terhadap sosial budaya masyarakat. Sehingga arah diskusi kita pada saat sekarang ini ialah membahas ideologi dari kelahiranya atau ideolagi klasik hingga paradigma di era modren atau neo-ideologi.

MACAM-MACAM IDEOLOGI

Mari kita mulai dari asal mula kelahiran beberapa ideologi yang  terkenal yaitu Liberalisme.

  • Liberalisme

Liberalisme sendiri lahir dari penentangan paham ultilitarianisme atau suatu teori keadilan yang dipopulerkan oleh William Betham dengan slogan yang terkenal "The Greathes Happynest"yang maksudnya suatu keadilan harus dilihat dari suara mayoritas, sehingga jika mayoritas menganggap sesuatu hal itu adil maka hal tersebut sudah dinyatakan adil. Maka dari itu muncul paham yang menentang paham ultilarianisme yaitu libertarianisme yang dipopulerkan oleh James Stuart Mill pada bukunya yang berjudul "On Liberty".

Baca Juga :
- Merdeka 100% dari Pandemi dan Tirani
- Generasi Milenial

James membuat gagasan sesuatu dianggap adil bila mana menyentuh pada lapisan private, jika sesuatu privat tidak diakomodir dalam keadilan, maka keadilan tersebut hanya sebuah hegemoni kaum yang berkuasa. Melihat sosial antropologi masa hidup James ialah pada masa dark of age atau masa kegelapan Eropa, yang mana gereja terlalu ikut campur terhadap hal private karna bergandengan dengan negara, dari sini juga munculnya gagasan sekularisme yang nantinya akan berhasil ketika revolusi prancis.

Galileo Galile adalah contoh seorang ilmuan yang menemukan bahwa pusat tata surya adalah matahari atau disebut paham helyosentris yang kala itu ditentang oleh paham gereja yang beranggapan bahwa pusat tata surya ialah bumi. Sehingga perbedaan pada Galileo mendapat perlawanan dari hukum gereja yang membuat Galileo di hukum mati. Disini James merasa riskan mengapa suara mayoritas yang berkuasa bahkan terhadap kebebasan berfikir, yang pada akhirnya membuat galileo membuat paham libertarian dalam konsep keadilan.

  • Kapitalisme

Menelisik juga setelah masa reinessanse atau masa pencerahan Eropa perkembangan ilmu pengetahuan juga semakin komprehensif, dikarenakan orang tidak perlu takut lagi kepada gereja, arus kebebasan liberalisme ditambah dengan semangat sekularisme membuat Eropa menjadi kiblat ilmu pengetahuan hingga lahirlah paham ekonomi politik yang disebut kapitalisme, yang dikembangkan oleh Adam Smith.

Baca Juga :
- Absurditas dan Kesiapan Kita
- Hukum Alam dan Hasrat Binatangisme

Kapitalisme sendiri ialah paham sosial ekonomi yang bergantung pada modal, jika modal kuat maka kelangsungan bermasyarakat akan juga kuat. Alhasil membuat masa-masa penyebaran paham ini membuat industri besar-besaran hingga terjadi revolusi Inggris atau era 1.0 atau era mesin uap, disinilah mulai ada istilah buruh dan pemodal atau pemilik industri, yang akhirnya membuat Eropa maju secara ekonomi.

  • Marxisme

Paham Kapitalisme tumbuh menjadi paham raksasa yang pada akhirnya membuat interval antara borjuis dengan proletar. Sehingga lahirlah paham yang menentang paham Kapitalisme yaitu Marxisme yang dipopulerkan oleh Karl Marx dan F.Engel.

Paham ini menentang harus penindasan borjusi ( pemilik modal ), dengan proletar ( kaum buruh ), sebab tidak ada aturan mengenai hak asasi manusia terhadap buruh, masa-masa kapitalisme klasik membuat buruh teraniaya dan tersiksa. Buruh disuruh bekerja selama 12 jam, dengan gaji yang rendah, sedangkan borjuis dengan modal yang cukup menjaga kekuasaanya dengan berbagai sistem pada negara, yang disebut dalam bahasa Das Kapitalnya Peitisime atau paham yang mengagungkan sesuatu, dimana kapitalisme membuat sesuatu produk dari industri menjadi barang yang harus dimiliki padahal tidak terlalu primer untuk digunakan, yang pada akhirnya mencuci otak belakang manusia atau bahasa Antonio Gramskinya Revikasi, sehingga membuat manusia menggap barang tersebut adalah sebuah kebutuhan primer, semisal handphone sebenarnya itu bukan kebutuhan primer kita, tetapi dibuat alat tersebut sebagai kebutuhan primer dengan cara membuat semua aktivitas dimudahkan dengan handphone, alhasil manusia menjadi candu akan hal tersebut.

Baca Juga :
- Sebuah Seni Memahami Perempuan
- Harta, Kasta, Dan Cinta!

Paham marxisme ini dilanjutkan oleh Stalin dan Lenin, yang membuat teori negara Sosialisme untuk mewujudkan tatanan masyarakat tanpa kelas atau Komunisme, sehingga terjadilah revolusi bolselvik di Rusia, yang membuat kala itu Stalin dan Lenin berhasil mewujudkan negara sosialismenya dengan nama Uni Soviet.

  • Ikhwanul Muslimin

Disinalah masa-masa perang ideologi yang paling besar selama abad 19-20 an, yang disebut dengan perang dingin, Ideologi ini pula menyebar ke berbagai negara baik maju hingga berkembang bahkan negara miskin. Kalau dilihat pada masa ini, ada peran agama Islam pada masa perang dingin tersebut. Sekuler Turki yang dipimpin oleh Kemal Attaturk, membuat kaum utopia yang berharap kejayaan Islam kembali lagi menghidupkan paham Islam secara gerakan politik, yang kala itu dipimpin oleh Hassan Al-Banna dengan nama gerakan Ikhwanul Muslimin.

  • Pan Islamisme

Paham Ikhwanul Muslimin ini pula bergandengan dengan paham wahabiah di Saudi Arabia, yang mana membuat munculnya gerakan Pan Islamisme. Gerakan Pan Islamisme ini lah ingin mewujudkan khilafah Islamiya seperti Turki Utsmani yang dulu, sehingga simpatisan ini banyak mengkudeta negara-negara Timur – Tengah. Ini pula nantinya dimanfaatkan oleh Ideologi Kapitalisme mewujudkan stategi yang disebut sebagai Geopolitik, yang mana memanfaatkan semangat Pan-Islamisme yang nantinya dibenturkan dengan paham Komunisme. Itu mengapa dalam beberapa negara ada perseteruan antara kaum agamis dengan kaum komunis. Hal ini diamini oleh Gus Dur bahwa kaum komunis dan kaum Agamis ialah korban dari geopolitik Kapitalisme.

  • Ideologi Modern

Sekilas pandangan tersebut menceritakan asal muasal kelahiran ideologi besar dunia, sehingga penulis bisa bercerita tentang transformasi ideologi tersebut menjadi neo-ideologi atau ideologi modern, apalagi mangandeng era digital atau era 4.0. Jika melihat aliran Libertarian sebagi aliran yang paling tua terhadap perkembangan ideologi modrn nantinya, libertarian atau liberalisme cap kali dasamakan dengan Kapitalisme, padahal keduanya mempunyai perbedaan secara prinspil, namun tidak salah memang pemahaman seperti itu, sebab paham seperti itu benar adanya.

Baca Juga :
- Cintaku Berdaulat Fobia
- Mengintip Bilik Pesantren yang Cabul

Ambiguitas paradigma di era disrupsi ini membuat kapitalisme dan Liberalisme bersatu, sebab bagi pandagan neo-liberal kebebasan hanya didapatkan ketika tingkat kesejahteraan baik, caranya adalah dengan memperkuat ekonomi dengan sistem kapitalisme, ini lah nanti membuat trilogi kekuatan di neolibs yaitu ekspansi,eksplorasi, dan sekularisasi atau ada yang menyebutkan Imprealisme muncul sebagai cara untuk memperkuat sistem kapital.

Ekspansi sendiri adalah metode meng-share gagasan keberbagai dunia, lewat share gagasan ini, maka sama halnya membuat bibit peitisisme dan revikasi yang sudah disinggung di pembahasan sebelumnya, ekspansi juga disebut penjajahan gaya baru atau neo-kolonialisme, sebab setelah perang dunia kedua, negara-negara berjanji menjaga kedamaian dunia dan diatur di hukum Internasional, itulah mengapa penjajahan secara fisik jarang sekali hadir di zaman digital ini,akan tetapi capkali penjajahan secara pemahaman merubah secara disrupsi secara sosial dan budaya.

Baca Juga :
- Pembenaran Tindakan Kejahatan Seksual Oleh Masyarakat
- Candaan kalong, Tembakau di tanah surga, Jiwa, dan Untukmu Yang Terhormat

Metodelogi kedua ialah Eksplorasi. Eksplorasi sendiri ialah metode penggalian, penghabisan, pengambilan sumber daya baik manusia maupun alam, untuk kekayaan modal para kaum borjuis, sehingga bentuknya pun juga menggunakan cara baru atau neo-eskplorasisme. Memakai prinsip jaringan keberbagai ilmu pengetahuan, pencetakan generasi pekerja secara membabi buta dengan mekanisme yang sangat rapi membuat Universitas juga sebagai sarang penghasil buruh murah dengan kualitas yang bagus. Mungkin penulis terlalu pesimistis terhadap link and match diskusi yang lalu karna memakai paradigma ini, akan tetapi inilah sekilas gambara besar tentang neo-lib yang bersanding dengan kapitalisme.

Metode ketiga ada yang bilang Sekularisme, dan ada yang bilang imprealisme, akan tetapi penulis lebih yakin terhadap pemahaman metode imprealisme sebab dua metode sebelumnya adalah metode penaklukan negara secara ekonomi maka kata imprealisme sangat cocok disandingkan dengan kedua kata tersebut. Imprealisme sendiri adalah metode pelangengan kekuasaan yang zaman klasiknya dalam bentuk kerajaan, akan tetapi di zaman digital ini sering kali pelanggengan kekuasaan tersebut dengan menempatkan cabang-cabang perusahaan kepada negara-negara tujuan barang tersebut.

PERKEMBANGAN IDEOLOGI DI DUNIA

Jika melihat eranya star up bisa pula dengan pembesaran modal dan menjual dengan murah tetapi barang yang didapat berkualitas agar starup lain bangkrut dan kapitalisme menunjukan tajinya sebagai hukum rimba, yaitu yang kuatlah yang menang.

Pemahaman neolib tersebut pada akhirnya membuat masyarakat merubah paradigma tentang marxisme. Setelah Uni Soviet hancur, marxisme merubah bentuh menjadi lebih humanis dan kontemporer, sehingga paham ini disebut neo-marxisme.

Baca Juga :
- Berubahnya Hukum Lama Akibat Adanya Keadaan Baru
- Upaya Mengenal Ideologi

Tidak seperti paham marxisme klasik, neo marxime tidak menghilangkan unsur kapitalisme sebagai metode perjuangan klas. Kapitalisme juga diambil sebagai bentuk kerasnya persaingan modal dikancah internasional, sehingga kapitalisme harus dipakai. Akan tetapi bentuk marxisme menjadi ciri khas bagian dari suatu negara tersebut sehingga tatanan sosialnya melihat perkembangan kaum miskin kota yang disetarakan dengan kelas yang lainya, sebab negara punya alat produksi yang bisa digunakan untuk seluruh lapisan masyarakat.

Cina adalah contoh neomarxisme bagimana arus kapitalisme sangat kuat di Cina yang menyebabkan perang dagang dengan Amerika Serikat, akan tetapi dalam internal sendiri Cina tetap memakai konsep kesejahteraan secara kolektif bukan secara individu. Slogan neomarxisme yang membuat maraknya pertukaran arah baru ialah kapitalisme harus dilawan dengan kapitalisme.

Baca Juga :
- Pada Suatu Hari Kematian
- Menyelami Konsekuensi Sebuah Keputusan

Perkembangan Pan Islamisme di era disrupsi juga sangat kuat, bagaimana paham khilafah Islamiyah sangat digandrungi terutama di negara kita Indonesia. Paham tersebut sebagai antitesis dari dua pemahaman di atas yaitu neolib dan neomarxisme. Ketidak percayaan kepada dua aliran tersebut memunculkan tindakan separatis yang berujung kepada terorisme. Paham tersebut sesungguhnya ingin mengembalikan kejayaan Islam seperti zaman Turki Ustmani.

PERJALANAN IDEOLOGI DI INDONESIA

Indonesia sendiri secara politik banyak dipengaruhi oleh paham Pan Islamisme ini, sebut saja HTI,FPI adalah segelintir dari organisatoris yang mewujudkan negara Islam. Padahal jika melihat dari 2 oragnisasi ini adalah adobsi dari organisasi Timur Tengah, yang mana negara mereka hancur karna 2 konsep tersebut atau salah satu konsepnya.

Berbeda dengan Indonesia bagaimana pancasila adalah ideologi yang mencampurkan ideologi besar yang ada hingga memberikan ketenangan dalam menjalankan kebernegaraan. Pancasila sendiri bagi kaum modrat juga dipandang mirip seperti piagam Madinah, yang mampu mempersatukan suku-suku bahkan agama yang berbeda-beda. Namun gerakan Islam Khilafah ini, menutup arus pergerakanya secara terang-terangan setelah dibubarkanya HTI oleh pemerintah Indonesia.

Baca Juga :
- Mutiara Hitam yang Mendewasakan Peradaban Kita
- Segenggam Mawar dan Puisi Lainnya

Pemaham Islam yang keras tersebut mencoba merasuki ranah kaum akademis yaitu kaum mahasiswa, perkembangan nya yang sangat dinamis dengan dipadu dengan cara populis yang menarik masa milenial ke dalam pengaruh Islamisme ini. Ini lah sebagai bibit nantinya persaingai dikancah politik dengan merubah konstitusi dan pancasila. Sebab kontrol pemerintah sangat penuh karna konsern pemerintah memberantas gerakan Islam Radikal tersebut.

AKHIR KATA

"NKRI Harga Mati" adalah slogan yang masih terus digencarkan dan akan terus terdengar dengan keras, akan tetapi akan ada suatu masa dimana masa tersebut menjadi penentu. akankah NKRI tetap harga mati ? atau bisa berubah?

Bagaimana pendapatmu?
mainmain
mainmain menginspirasi dengan kreativitas

Posting Komentar untuk "Indonesia Mau Dibawa Kemana ?"