Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Padukan Rasa

Padukan Rasa


Penulis : 
Yesi Wening Sari

Manusia hidup tidak bisa berdiri sendiri. Segala keperluan dan kebutuhan hidup sehari-hari, mereka  saling melengkapi. Pengaruh dunia digital dengan arus globalisasi seperti badai melaju pesat, sehingga setiap orang mempunyai pandangan dan prinsip masing-masing. Akibatnya ada yang mementingkan ego sendiri, tanpa ada rasa peduli dan empati. Sikap meyakini dan menghargai sebagai cara bagaimana membuat keadaan harmonis, damai, aman, dan nyaman sentosa.

Saudara Sedarah Sebangsa

Perbedaan yang terjadi antar strata sosial, tidak bisa akan dipungkiri. Bukan sekedar dari latar belakang segi ekonomi yang tampak sangat terlihat, akan tetapi fisik ataupun kekuasaan tertentu, seharusnya tidak menjadikan seseorang bersikap tidak adil. Indonesia tidak bisa lepas dari perbedaan, jika terjadi maka Indonesia akan tinggal nama.

Perbedaan menjadikan kita lebih kuat, sama rasa atas apa yang dirasakan akibat musibah dari masalah hidup. Indonesia yang diakui ada enam agama, akan tetapi di luar itu masih ada saudara sedarah bangsa kita, yaitu 187 agama penghayat kepercayaan.

Tinggal di Indonesia dengan pemandangan alam yang begitu indah, maka dapat menjadi cara kita untuk terus memiliki kesadaran rasa syukur. Kenyataanya kita sebagai manusia masih merasa kurang, tanpa sadar sering mengeluh. Merasa gengsi jika berada di posisi yang tidak enak. Tuhan memandang kita semua sama, begitulah Islam. Rasa berbeda tak masalah, tetapi tujuan yang sama dengan visi misi dari dasar negara itu menjadi pondasi kokoh.

Sulit untuk menemukan satu orang yang peka, untuk mengambil satu sampah saja yang berserakan, saat berada di suatu tempat yang ramai setelah acara. Perilaku tersebut menggambarkan budaya dari sikap gengsi. Peduli dikira pencitraan, dan ternyata sungguhan ada yang memanfaatkan peluang sosial untuk sekadar menipu masyarakat. Keadaannya memang penuh tantangan, apalagi ditambah istilah anak sekarang, ANSOS (Anti Sosial). Zaman semakin maju akan mengubah sikap perilaku.

Ekslusivisme dan Agama

Siap tidak siap kenyataanya tetap terus bergulir, yang tertinggal akan sulit beradaptasi. Pilihan ada di setiap diri individu pada akhirnya, akan menjadikan nasib bangsa dibawa ke arah mana. Nilai-nilai pancasila masih berada di dalam jiwa, atau sekedar menjadi simbol. Belum tentu yang tidak dapat mengikuti zaman, maka dianggap kudet, atau kurang update. Penampilan fisik luar juga tidak menjamin, semua terlihat dengan murni, tanpa berpura-pura.

Islam yang ditakuti, dengan istilah Islamofobia, menjadikan keseraman tersendiri bagi agama lain, padahal tidak seperti yang dibayangkan. Praduga sering dilakukan kita sebagai manusia, namun berlebihan itu menjadi sesuatu yang mengerikan. Dugaan juga akhirnya yang menjadikan sebab musabab pemisahan diri seseorang, dengan cara menutup diri atau ekslusivisme.

Pakdeku non muslim, yang beragama nasrani, dahulu beliau Islam. Namun pernah dalam perbincaangan, bercerita akan sejarahnya dulu, saat takut melihat keadaan sesama saudara muslim, seolah saling berseteru. Akibatnya, pakdeku keluar dari Islam, citra yang sangat terlihat di berbagai macam kanal informasi, peperangan yang terjadi, di negara-negara timur, ataupun indikasi Islam terorisme, dengan beberapa orang mengganggap sekedar simbol yang dikenakan. Saat itu aku cukup diam, dan tersenyum, untuk menghargai sudut pandang beliau.

Padukan Rasa

Pakaian setiap agama sesuai dengan nilai, yang dibawa dalam pembiasaan metaati aturan ajaran Tuhan, yang sudah dibawa masing-masing. Semua agama menjunjung tinggi pakaian rapi, sopan, dan sesuai dengan nilai dan norma agama masing-masing. Cara berpakaian, di zaman sekarang juga sudah bagian dari budaya, sedangkan seni budaya hak dan kebebasan tiap individu untuk mengambilnya dalam bentuk yang indah seperti apa, kemudian tercerminlah penampilan luar. Kesadaran diri sendiri sebagai titik temu, sudahkah ajine sariro ono ing busono.

Belajar dari Pandemi

Tradisi budaya Jawa umat muslim, yang membiasakan acara selametan atau tahlilan bagi orang yang sudah tiada atau meninggal. Perbedaan dari yang mengadakan yasinan 7 hari, 40 hari, 100 hari, dan 1000 hari, kemudian dengan yang tidak mengadakan, maka tidak perlu menjadi pemikiran yang seolah memisahkan. Merasa diri “paling” saja sudah menjadi batas  yang tidak harusnya dilewati. Tetangga di rumahku ikut dalam doa bersama, walaupun kami berbeda agama. Bagi mereka toleransi, tetaplah menjadi sebuah kasih sayang, begitupun juga seharusnya kita.

Toleransi dapat dirasakan disegala aspek kehidupan. Persoalan mayoritas yang dapat lebih menguasai dan minoritas yang akhirnya tidak mendapatkan rasa nyaman dan aman. Dampak terlihat dari masalah ketimpangan dan kesenjangan di Indonesia, yang menjadi masalah kemiskinan tidak kunjung usai.

Sering kali di dalam hati yang merasa terpinggirkan bertanya-tanya, kenapa yang berada atau mempunyai kedudukan diberi jalan, sedangkan yang kesusahan dipersulit. Sikap intoleransi perlu dibuang seakar-akarnya, tanpa memikirkan balasan ataupun pandangan orang lain. Rasa saling yang dapat menguntungkan satu sama lain, sebagai bentuk toleransi yang kuat, sekedar berbagi semangat, hingga mendoakan, jika tidak mempunyai material untuk berbagi. Covid-19 menjadi pelajaran tersendiri dalam bingkai cerita khusus setiap masing-masing individu.


Padukan Rasa
Pendidik dan Pembelajar. Biasa menulis dan mengikuti kegiatan sosial, serta gemar memasak dan berpuisi. Bisa dihubungi dan di temui di Email: yesiweningsari@gmail.com dan Instagram: @yesiweningsari
mainmain
mainmain menginspirasi dengan kreativitas

Posting Komentar untuk "Padukan Rasa "