Menurut Arswendo, Mengarang Itu Gampang

Menurut Arswendo, Mengarang Itu Gampang

Penulis: Abdul Majid Z

Sebagai penulis pemula dengan ketertarikan setengah mati pada dunia tulis-menulis, saya sempat kelimpungan ketika pertama kali (mem)praktik(an) menulis, terutama menulis karangan cerita, seperti cerita pendek. Di hadapan layar laptop, ide besar dan alur cerita yang semula di kepala terasa wah dan lancar mengalir, buyar seketika. Meski, tentu saja, saya paksakan. Beberapa berhasil menjadi sebuah karangan dengan komposisi sebuah cerita yang lengkap, selebihnya banyak yang tak selesai menjadi sebuah tulisan. Saya kira ini sebuah keniscayaan bagi penulis pemula.

Di sisi berbeda saya anggap sebagai kewajaran, sebab dua hal; pertama, saya bukan berangkat dari seorang penulis melainkan pembaca, dan membaca merupakan hal yang lebih mudah dan mengasyikan ketimbang menulis. Menulis menuntut saya untuk mengeluarkan isi kepala, sementara membaca sebaliknya, hanya membiarkan diri menyerap sebuah tulisan. Kedua, keyakinan bahwa setiap penulis profesional dan terkenal di luaran sana, bermula dari penulis pemula yang tidak terkenal-terkenal amat. Untuk sementara keyakian semacam ini memang boleh-boleh saja dan, ya, sah-sah saja.

Tapi bagaimana jika keyakinan semacam itu terus berlanjut dalam tempo yang panjang? Apa iya ‘boleh-boleh saja’ dan ‘sah-sah saja’ tetap berlaku? Buku karangan (alm) Arswendo Atmowiloto inilah yang menjotos saya ini punya kepala! Buku ini pula yang menuntun saya sekaligus memperingatkan; “Hei, bangun kau tolol, jangan jadi pemalas! Menulis bukan pekerjaan main-main!”

Geus ah curhatna..!

Di awal prakata buku Arswendo membuka obrolan soal mengarang. Menurutnya mengarang itu gampang “asal” (bukan asal-asalan lho, ya) bisa baca-tulis dan punya minat besar dalam karang-mengarang, dan tentu saja, mental kuat yang tak mudah patah. Itulah yang disebut bakat. Semua tidak lahir dari proses instan. Perlu kesabaran, ketelitian, disiplin, dan kalau gagal terus, mau mencoba lagi dan lagi.

Buku ini disajikan dengan urutan bab-per-bab, dalam setiap bab berisi langkah-langkah yang mesti diperhatikan dan dilakukan oleh seorang penulis pemula. Dijelaskan dengan cara tanya-jawab seputar kepengarangan. Jelas jauh berbeda dengan kebanyakan buku non-fiksi, yang biasanya dijelaskan dengan cara njelimet serta ditulis dengan diksi super-sulit-dimengerti. Arswendo (seakan) mengerti betul budaya kita yang suka berbasa-basi hampir dalam segala sisi kehidupan. Maka dari itu pengertian-pengertian dan bahasan isi buku tidak didasarkan pada kerangka “definitif”, melainkan tanya-jawab. Persis tetangga bergosip, bapak-bapak tukang becak berkeluh kesah ke sesama tukang becak tentang tarikan yang sepi saban hari, atau kelakar anak muda di pos ronda soal masa depan.

Di dalam bab pertama “Pengantar Persoalan”, Arswendo memberikan (modal-)modal utama bila ingin mulai mengarang: Punya minat, ambisi, dan jujur. Ini tiga modal utama menurut Arswendo, dan di antara tiga itu, Arswendo amat menekankan pada setiap modal untuk diperjelas. Kenapa minat bisa ada dan apa yang melatarbelakanginya, kenali ambisi/tujuan mengarang, dan terakhir, seseorang dalam (mulai) mengarang harus jujur , atau terus terang, atau setia pada apa yang mau ditulisnya.

Tentu saja, sebetulnya perkara jujur, itu nilai yang harus dijunjung dalam berbagai aspek kehidupan, bukan saja mengarang. Tapi—dalam hal menulis—bagi Arswendo, ini tidak bisa ditawar-tawar, sebab mengarang berarti juga berbagi ide-gagasan, nilai, juga informasi, kepada orang lain (yang bukan hanya sesama pengarang) kebohongan tak boleh terselip di dalamnya. Beda hal, mungkin, seperti dalam politik kejujuran justru nilai yang selalu ditukar-tambah dengan kebohongan.

Setelah seseorang mantap dengan tiga modal itu, di bab selanjutnya, Arswendo menyoroti bahan atau sumber bahan dalam mengarang. Kebingungan ‘apa yang akan ditulis’ merupakan gejala normal awal mengarang. Tapi masalah ini akan dengan cepat dan mudah teratasi bila seseorang peka terhadap realitas sekitarnya. Kepekaan itu, tentu saja bersyarat; pikiran harus jernih dan hati harus terbuka. Hanya dengan pikiran jernih dan hati terbuka—atau Arswendo menyebutnya indra keenam/intuisi—ilham dari realitas yang berlangsung dapat ditangkap dengan mudah.

Ilham itulah yang kemudian dijadikan bahan dalam mengarang. Arswendo memberti catatan, bahwa ilham yang dimaksud tidak selalu sama, bisa rupa, bentuk, simbol, atau suasana. Arswendo mencontohkan, misal saja, pacar yang hamil; apa penyebab pacarmu hamil sementara kau tidak pernah menggaulinya, atau ibu penjaga warung; apa yang dijualnya dan kenapa ia bisa menjadi pedagang, atau lain-lain. Sebab ilham bisa didapat dari realitas yang terus berlangsung, selama seseorang masih hidup, ia tidak akan kehabisan bahan mengarang.

Di bagian bab lain, Arswendo ditanya seputar plot; apa itu plot? Bagaimana membuat plot dalam sebuah cerita oleh tokoh penanya. Dan di bagian ini pula Arswendo menunjukan kepiawaiannya dalam menjelaskan suatu istilah. Plot cukup dijelaskan secara sederhana sebagai ‘sebab akibat’ dalam rangkaian sebuah cerita. Untuk menjelaskan ada berapa jenis plot yang perlu diketahui dalam mengarang pun, Arswendo tidak muluk-muluk, comot pengertian menurut pakar ini atau pakar itu. Ia membuat sendiri istilah jenis plot menurutnya sendiri, dua saja, iya dua saja, gak perlu banyak-banyak.

Dua istilah plot itu ia namai “plot keras” dan “plot lembut”. Plot keras Arswendo maksudkan untuk jenis karangan yang bagian akhir cerita keras-meledak di luar dugaan si pembaca, contoh karangan dengan plot keras-meledak itu bagaimana, Arswendo merujuk beberapa karya dan pengarang: cerpen-cerpen Trisnoyuwono dalam bukunya Laki-laki dan Mesiu, Subagio Sastrowardoyo dengan bukunya Kejantanan di Sumbing, terakhir Arswendo menyarankan buku karangannya sendiri Surat Dengan Sampul Putih. Selain memberi ledakan di bagian akhir cerita, plot keras juga bisa dimaksudkan ledakan serta kompleksitas plot dalam sebuah cerita, seperti novel Eka Kurniawan O [mun ieu mah rekondasi ti aing!]

Plot lembut Arswendo maksudkan untuk sebuah cerita dengan alur satu arah serta penyelesaian cerita multitafsir, menggantung, atau ‘begitu saja’ tanpa adanya penjelasan lanjut sebuah cerita. Arswendo merujuk pada cerpen karangan Umar Kayam Seribu Kunang-kunang di Manhattan, Putu Arya Tirtawirya dalam Malam Pengantin, Gerson Poyk dalam Krawang-Bekasi.

Sementara cara membuat plot itu sendiri hanya dibutuhkan kemampuan mengolah alur sebuah cerita. Seorang pengarang pemula harus pintar mengocok, menarik-ulur, atau memulai dan mengakhiri konflik dalam sebuah cerita.

***

Di dalam bab-bab selanjutnya yang saya rasa bisa dipadatkan dalam satu bab, Arswendo membahas soal yang dianggap mudah oleh kebanyakan pengarang pemula, yaitu; menunda-nunda menyelesaikan tulisan, harapan akan honor yang besar dari menulis, dan tolok-ukur kualitas karya yang lahir melalui sayembara. Sebaiknya seorang pengarang ketika sudah insaf dan nyebur ke dalam dunia kepengarangan, lebih dahulu ia membetulkan kembali intesitas kepengarangannya.

Berharap honor dari sebuah tulisan yang dikirim ke sebuah media, bahkan keingintahuan berapa besaran honor yang di dapat dari sebuah tulisan, itu adalah hak pengarang dan sangat boleh dicari tahu. Hanya tetap saja, sebelum urusan honor, disiplin mengaranglah yang utama. Akan tiba tulisan menghasilkan uang, jika tulisan itu memang punya kualitas yang layak. Dan tentang sayembara, Arswendo menegaskan, untuk tahu kualitas sebuah tulisan cobalah mengikuti sayembara karya; novel, puisi, cerpen, dll.

Dari sana pengarang pemula bisa menjajal sejauh mana kualitas karyanya di hadapan para juri sayembara, dan kalau beruntung, tentu saja, hadiah ditangan dan penerbitan karya tanpa ongkos pribadi. Tapi kalau tidak lolos sayembara, juga perlu dicamkan banyak karya-karya bagus lahir tanpa melalui sayembara. Dengan penegertian semacam itu, seorang pengarang pemula harus punya mental menang, tidak di dalam sebuah sayembara, bukan berarti di tempat dan kesempatan lain, bukan?

Di bagian akhir Arswendo memberikan tips yang bisa dibilang umum sekali yaitu, membaca karya sastra. Meski terdengar mudah banyak dari pengarang—apalagi pemula—mengesampingkan membaca karya sastra. Menurut Arswendo membaca karya sastra mampu membangun daya imajinasi seorang pengarang, selain itu juga mampu memberikan gambaran terkait suatu tulisan yang bagus dan buruk.

Untuk membuktikan semua langkah-langkah Arswendo dalam mengarang silakan anda coba sendiri. Saya pribadipun sudah mencoba beberapa langkah yang dianjurkan Arswendo. Beberapa terasa mudah dan selebihnya sulit memang. Pada akhirnya mengarang itu mudah (seolah) berlaku bagi Arswendo!

 

Judul Buku: Mengarang Itu Gampang

Penulis: Arswendo Atmowiloto

Penerbit: PT Gramedia Jakarta

Terbitan: Cetakan Kelima Januari 1987

 

 

 

Founder SertaAksara.com