Sepakbola Modern: Keserakahan, Simbol Hidup dan Hegemoni Abadi

Sepakbola Modern: Keserakahan, Simbol Hidup dan Hegemoni Abadi

Penulis
: Ryan Aldi Nugraha

 

Sebuah Prediksi

Laga pekan pertama Premier League yang mempertemukan Arsenal dengan Everton pada musim 2009/2010, dua hari setelahnya sebuah komentar sangat menarik dilontarkan oleh Sang Profesor. Wenger duduk di ruang konferensi pers di Glasgow, sebagai manajer Arsenal, memenuhi kewajibannya untuk media briefing jelang leg pertama kualifikasi Champions League kontra Celtic.

            Kala itu, mulai muncul spekulasi jika dominasi duo klub top Skotlandia, Celtic dan Rangers berencana meninggalkan asosiasi sepak bola Skotlandia untuk bergabung dengan Inggris, yang saat itu disponosori oleh Barclays. Profit sangat jelas; pemasukan hak siar televisi, insentif lain dari FA lalu penjualan tiket yang bisa 2-3 kali lipat daripada Liga Skotlandia.

Namun beberapa hal membuat spekulasi ini sulit terwujud, salah satunya adalah peraturan di Inggris yang mewajibkan klub yang ingin langsung bergabung di divisi teratas liga perlu memulai dari level terbawah piramida sepakbola profesional mereka. Alasan itulah yang kemudian membuat wacana itu hanya mentok pada spekulasi dan angan-angan semata.

Wenger, di ruang konferensi pers tadi dimintai pendapat oleh reporter soal spekulasi itu, dan ia justru memberi pernyataan yang lebih luas dan visioner pada masanya:

“Alih-alih satu-dua tim pergi dari negara ke negara, saya kira akan lebih mungkin jika akan muncul suatu kompetisi antarklub Eropa yang berbeda dari yang kita jalani sekarang. Bagaimana sepakbola modern mengarah saat ini secara finansial, akan ada waktunya di mana uang dari Champions League tidak akan cukup untuk beberapa klub Eropa, sebab memiliki pengeluaran besar. Mayoritas pendapatan yang masuk di ajang ini (Champions League) dikontrol oleh UEFA.” (dilansir The Guardian)

Sedekade setelah itu, apa yang dibanyangkan Wenger mulai menjadi sebuah realita: klub-klub elit Eropa mulai bergulat dengan masalah finansial, distribusi dana yang tidak menutup kebutuhan klub, belum lagi dari regulator kompetisi yang kredibilitasnya dipertanyakan, yaitu UEFA.

Waktu Adalah Segalanya

Minggu, 18 April 2021 adalah hari bersejarah dalam sepakbola, sebuah langkah ‘transformatif’ yang dilakukan oleh 12 klub elit Eropa resmi mendirikan badan kompetisi European Super League (ESL). Pengumuman ini adalah ledakan besar yang memancing reaksi global, yang mayoritas tendensius pada hal negatif. Gerak-gerik petinggi-petinggi klub ini sudah tercium sejak 3 tahun lalu, di mana media Der Spiegel yang berbasis di Hamburg membongkar tahapan awal penyusunan rencana ESL ini.

Menurut usutan media Jerman tersebut, para petinggi klub elit ini sudah mulai mambahas wacana pembentukan kompetisi elit antarklub Eropa di luar naungan UEFA/FIFA sejak 2015. Mereka jelas paham reaksi UEFA kerena 3 tahun lalu, Aleksander Ceferin, Presiden UEFA mengecam secara publik soal ide ‘gila’ ini.

Pada pekan yang sama, kedua belas klub elit ini mengumumkan keikutsertaan mereka di kompetisi ESL, torehan hasil menarik dicatatkan oleh klub-klub ‘elit’ ini. Contoh duo London, Arsenal dan Spurs. Nama terakhir sangat inkonsisten untuk mengunci tiket Champions League, bahkan, The Lilly White memecat The Special One atas performa buruk tim. Kapan gelar liga terakhir mereka? Ya, musim 1960/1961.

Rival utama Spurs, Arsenal memang lebih mentereng dalam koleksi trofi, bahkan salah satu koleksi trofi emas mereka kala unbeaten di Premier League, yang hingga sekarang belum direplikasi klub Inggris lain. Namun musim ini, mereka kesulitas bersaing dengan Big 6 lain. Bahkan di pekan 32, mereka nyaris bertekuk lutut di tangan klub ‘non-elit’ yang saat ini sedang berjuang di zona relegasi, Fulham.

Bagaimana dengan Real Madrid? Klub tersukses sepanjang sejarah kompetisi antarklub Eropa jelas amat pantas dengan label klub elit, kan? Mereka pun justru kesulitan kala melawan Getafe, yang hanya berjarak 4 poin dari jurang degradasi. Klub ‘elit’ Italia, jawara liga 9 kali beruntun, Juventus tumbang di markas Atalanta. La Dea, disebut oleh Andrea Agnelli, presiden klub Juventus sebagai klub menarik yang tidak pantas mengambil slot antarklub Eropa, bulan Maret lalu:

“Saya memiliki rasa hormat atas apa yang dilakukan Atalanta. Namun tanpa sejarah internasional dan performa bagus, mereka dapat berlaga di Champions League. Anda perlu memikirkan klub seperti Roma yang sudah mengangkat nama pesepakbolaan Italia di Eropa selam bermusim-musim. Dan mereka melewatkan kesempatan berlaga di ajang ini. Saya kira konsekuensinya di level finansial. Kami harus melindungi investasi kami dari hal ini.” (dilansir dari Football Italia)

Respon Atalanta tentu bukan secara verbal, tetapi lewat manuver yang brilian dengan membungkam Juventus di Stadio Bergamo pada Giornata 31, sebulan setelah pernyataan Agnelli. Kemenangan yang ironisnya membuat Atalanta menyalip Juventus di papan klasemen. Membuat klub ‘elit’ Turin itu bertarung poin dengan Napoli, Lazio bahkan Roma untuk slot terakhir Liga Champions musim depan.

Satu Jalan dan Jalan Lain

Ada banyak sisi melihat situasi ESL ini. Banyak yang melihat ini sebagai reaksi klub-klub elit dalam mendorong UEFA melakukan reformasi kompetisi antarklub Eropa. Ketidakpedulian Florentino Perez, Presiden Real Madrid soal ancaman suspensi untuk para pemain (yang tergabung di ESL) dalam ajang internasioal, apakah ini memang ditujukan untuk lebih menekan UEFA agar mempercepat restrukturisasi kompetisi? Ini pertanyaan pentingnya.

Pandangan yang mendukung ESL jelas muncul dari perspektif klub yang melihat jika EUFA/FIFA sebagai organisasi yang mereka pandang tidak memberikan solusi untuk mengatasi masalah mereka, terutama dengan pandemi sebagai katalis yang sangat mempengaruhi neraca keuangan klub-klub elit ini. Namun di satu sisi, langkah klub-klub elit ini selain sebagai bentuk revolusioner dan simbol ‘jari tengah’ pada federasi sepakbola Eropa, juga di satu sisi seakan meludahi sesama klub sepakbola lainnya yang secara kualitas dan finansial tidak berstatus ‘elit’.

Seperti yang Arsene Wenger katakan, tidak ada solusi mudah untuk situasi semacam ini: kompetisi ‘close league’ didasarkan pada kualitas dan kelayakan suatu klub untuk ikut serta, namun tanpa membunuh liga domestik. Namun solusi yang ditawarkan 12 klub elit ini adalah dengan mengadakan kompetisi berisikan 15 klub ‘pendiri’ dengan status permanen dan 5 klub undangan jalur ‘prestasi’ setiap musimnya. 5 klub yang diundang mungkin klub potensial dalam mendongkrak profit ESL, bukan sebab kelayakan seperti yang Wenger bicarakan.

Para pecinta sepakbola selalu menyukai kisah klub underdog. Bagaimana Leicester menjadi kampiun Liga bersama Ranieri, mematahkan dominasi duo Manchester-Chelsea di liga domestik seperti kisah Cinderella yang tak akan terlupakan. Jika ESL berjalan tanpa suspensi level nasional-internasional, maka kisah Leicester ini nyaris mustahil terulang. Mereka akan semakin jauh tertinggal dari klub Big 6, akan semakin melebar jurang perbedaan kualitas antara klub elit dan non-elit.

Ketika Agnelli memandang Atalanta sebagai ancaman investasi jangka panjang, alih-alih sebagai tantangan memperbaiki dan meningkatkan performa timnya, di saat itulah sepakbola kehilangan ruh dan jati dirinya. Kemenangan La Dea atas Si Nyonya Tua di Bergamo akhir pekan lalu mungkin takkan berarti apapun saat ESL bergulir bulan Agustus. Namun di satu sisi, kemenangan ini adalah simbol hidup atas apa yang sedang dibunuh oleh asosiasi klub-klub elit ini, dalam usaha mereka untuk mengejar hegemoni abadi.

 

 

 

Ryan Aldi Nugraha
Warga Desa Sampora Kecamatan Cilimus